Silaturahim Nasional (Silatnas) III di Stadion Manahan, Solo, Ahad (17/9/2017) dihadiri presiden dan beberapa pejabat negara. Silaturrahim tersebut diadakan Majlis Tafsir Alqur'an (MTA) sebagai acara tahunan dan mengundang semua anggota MTA di seluruh Indonesia. Sesuai dengan namanya, MTA banyak mengadakan kajian Alqur'an dan bertujuan memerangi ajaran yang meyimpang dari Alqur'an. Silatnas ini sendiri ternyata tidak banyak mengkaji tentang Alqur'an sendiri.
(Baca: Sejarah MTA dan Kesalahan dalam Majelis dan Pengajiannya)
Beda halnya dengan Program Pembibitan Penghafal Al-Qur'an (PPPA) Daarul Qur'an yang sudah lebih dari enam kali mengadakan wisuda akbar, yang banyak menelurkan peserta yang hafal satu dua surat Alqur'an. Tidakkah MTA, yang mengkaji Alqur'an tiap Ahad pagi, malu dengan PPPA, yang hanya menyediakan sarana menghafal Alqur'an saja? Harusnya MTA belajar banyak dari PPPA, yang walaupun hanya bisa menghafal satu dua surat, bisa populer dan masuk media massa nasional.
MTA harusnya juga belajar dari PPPA tentang bagaimana Alqur'an itu tidak harus dikaji, tapi dihafal. Buat apa banyak mengkaji Alqur'an seperti MTA, kalau tidak hafal surat Alqur'an? Oleh karena itu, MTA kalah saing dan sangat jauh kualitas serta kuantitas hafalannya daripada PPPA. Namun begitu, MTA layak diapresiasi karena kegigihannya mengkaji Alqur'an walaupun banyak jamaahnya yang tidak hafal Alqur'an. Sekali-kali MTA bikin Silatnas yang diisi dengan kajian kontemporer Alqur'an seperti living Qur'an, hermeneutika Alqur'an, stilistika Alqur'an dan berbagai kajian sosiologi dan antropolgi Alqur'an. Walaupun kajian tersebut muhal 'aqli naqli, namun hal ini ditujukan agar MTA tidak kalah saing dengan PPPA.
(Baca: Kenali Empat Modus Kelompok Intoleran di Lingkungan Sekitar)


Comments
Post a Comment