Kelompok intoleran seakan selalu membayangi keharmonisan dan kerukunan warga masyarakat. Mereka tidak henti-hentinya mengganggu dan mengusik ketenangan masyarakat di sekitarnya. Bahkan, kelompok yang tidak jelas tersebut seakan tidak rela ada kelompok lain yang lebih besar dan terdiri berbagai macam pandangan dan aliran hidup damai.
Guna menggaet pengikut kelompok mereka yang jumlahnya masih sedikit, maka berbagai upaya mereka lakukan agar masyarakat mau mengikuti mereka. Sebagian modus yang dilakukan oleh kelompok intoleran tersebut antara lain terangkum dalam diagram di bawah ini:
![]() |
| Skema modus kelompok intoleran |
- Menyalahgunakan izin. Pada awalnya, izin digunakan untuk membangun bangunan atau kegiatan yang tidak kontroversial. Tapi setelah mendapat izin, mereka akan menggunakannya untuk tujuan lain. Misalnya adalah kejadian penyegelan masjid di Krapyak Pekalongan dan undangan Felix Siauw di salah satu lembaga tahfidz al-Qur'an di Imogiri, Yogyakarta
- Mendekati kelompok lain. Kelompok yang notabenenya masih asing akan mendekati kelompok lain yang populer di masyarakat untuk menyembunyikan agendanya. Mereka juga mendirikan atau bahkan menggunakan fasilitas kelompok tersebut untuk kegiatan. Hal ini terjadi di desa Loram, Jati Kudus dan Karimunjawa Jepara tidak lama ini.
- Mengambil fasilitas kelompok lain. Mereka menggunakan jamaah sebagai aktivitas awal dan identifikasi kelompok di sekitarnya. Perlahan mereka kemudian menguasai fasilitas dan terkadang memprovokasi warga. Hal ini terjadi pada salah satu Taman Pendidikan Alqur'an di Solo dan beberapa masjid kampus perguruan tinggi negeri (PTN) di kota-kota besar.
- Pendekatan persuasif atau ekonomi. Mereka akan mengajak ngobrol atau curhat seseorang atau kelompok masyarakat akan keadaan hidupnya. Setelah itu mereka berpura-pura ingin taubat dan mengikuti kelompok yang ada. Jika berhasil, maka mereka akan menyerang dari dalam kelompok tersebut dan menyebarkan kekerasan.
(Baca: Intoleran dengan Masyarakat, MTA, HTI dan Sejenisnya Sering Picu Konflik)
Empat modus di atas adalah modus umum yang digunakan. Jika modus ini ketahuan dan masyarakat memboikot atau menolak, maka kelompok intoleran tersebut akan bermain sebagai korban (victim playing) dan mengaku sebagai pihak yang tertindas. Mereka juga akan mengadu kepada siapapun yang bisa dan terkadang membawa isu tersebut ke ranah yang lebih luas. Misalnya adalah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang menolak hak asasi manusia (HAM) ketika masih bebas melenggang, namun ketika dibubarkan akan berjuang dan mengatasnamakan HAM untuk melawan pemerintah.

Comments
Post a Comment