Ustadz Adalah Kalimat Syi'ah dan Bid'ah

Ustadz atau أستاذ adalah kalimat mu'arrab atau kalimat asing yang diserap dalam bahasa Arab. Kalimat tersebut berasal dari bahasa Persia (sekarang Iran), yaitu أستاد. Dalam kamus Taj al-'Arus, kalimat ini artinya orang yang mahir akan sesuatu (الماهر بالشيء). Oleh karena itu, kalimat ini bukanlah kalimat yang Islami. Kenapa? Karena kalimat ini tidak berasal dari bahasa Arab. Semua kalimat yang tidak berasal darimana bahasa Arab asli adalah kalimat bid'ah yang harus dijauhi dan diganti. Begitu juga dengan sebutan sedulur, romo kiai, santri dan lainnya tidak Islami. Caranya bagaimana agar Islami? Jawabannya harus dirubah dalam bahasa Arab. Kalimat tersebut harus diganti dengan akhi, ukhti, syaikh, thalib dan lainnya.

Itulah mainstream pemikiran yang Arab-sentris. Semuanya harus diukur dengan bahasa padang pasir tersebut. Padahal Allah sendiri bukan Dzat yang berbicara dengan bahasa Arab. Banyak para nabi dan rasul awal malah menggunakan bahasa non Arab seperti Aramaic dan Syriac seperti bahasa Hebrew atau 'Ibrani. Nah dalam sejarah linguistik, bahasa Arab muncul dan berkembang belakangan. Maka bahasa Arab banyak mengambil struktur gramatikal dan kata yang mirip dengan 'Ibrani. Jadi kesimpulannya? Bahasa bukan merupakan tujuan dalam agama Islam, tapi sarana guna memahami agama yang dibawa Rasulullah yang lahir di Makkah dan meninggal di Madinah.

Seiring dengan menyebarnya agama Islam ke daerah non Arab, maka diperlukan penggunaan bahasa lokal untuk memahami ajaran agama yang berbahasa Arab seperti Alqur'an dan hadis. Begitu juga Islam menyesuaikan dengan istilah, tradisi dan kearifan lokal daerah yang menjadi obyek syiarnya. Maka rumusnya adalah bahwa Arab merupakan bahasa yang digunakan dalam sumber ajaran Islam, namun untuk memahaminya harus dengan bahasa kaumnya. Lain ladang lain belalang. Maka Arab tidak harus Islam, bahkan orang Yahudi dan Nasrani awal sebelum Islam menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa pengantar komunikasi mereka. Orang jahiliyyah juga menggunkan bahasa Arab dalam menyebut istilah hari, bulan, daerah dan lainnya.

Nama haru dan bulan yabg digunakan dalam penanggalan hijriyah sudah ada sebelum Rasulullah lahir. Jadi nama Ahad, Itsnain, Tsulatsa', Arbia' dan Khamis itu digunakan orang jahiliyyah. Sabtu atau Sabat digunakan kaum Nabi Musa yang disebut sebagai Yahudi. Shafar, Rabi'ul Awwal dan lainnya juga digunakan orang musyrik Makkah sudah lama. Jadi kalau dianggap non Arab seperti bahasa Jawa bukan Islami, maka Arab pun banyak yang tidak Islami.

Kesimpulannya ustadz adalah gelar dari Persia, yang sekarang dihuni orang Syi'ah dan digunakan orang yang suka mengatakan bid'ah kepada sesama saudaranya. Maka kelakuannya ya seperti orang Syi'ah yang sering mereka benci dan dijadikan kambing hitam tapi diam-diam mereka ikuti. Bahkan dapat dilihat bahwa yang banyak menyalahgunakan otoritas dan kekuasaan atas nama agama adalah ustadz. Orang yang diam-diam menipu sedekah orang atas nama investasi adalah ustadz. Teroris adalah ustadz. Hal-hal negatif lainnya dilakukan oleh ustadz.

Tapi hal-hal baik dilakukan oleh para romo kiai dan ulama yang dianggap ahli bid'ah. Pakai langgam Jawa, maknani dengan huruf Pegon, pakai blangkon, sarung, peci dan sesuatu yang menjunjung tinggi kearifan lokal dan tradisi luhur malah dibenci. Logika ini dipakai oleh orang yang tidak suka dengan sesuatu yang lokal dan berniat menghancurkannya sebagaimana dilakukan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) dengan cara menghancurkan monumen dan situs bersejarah serta makam para salafush shalih.

Comments