Hermeneutika banyak disalahpahami oleh mereka yang tidak pernah mempelajarinya. Hermeneutika secara umum adalah metode penafsiran yang selalu berkembang dari masa ke masa. Secara etimologis, hermeneutika berasal dari bahasa Yunani, hermeneuein yang berarti menafsirkan. Kata benda hermeneia dapat diartikan sebagai penafsiran atau interpretasi. Istilah ini mengingatkan pada tokoh mitologis Yunani yang bernama Hermes. Ia menerjemahkan pesan-pesan dewa di Gunung Olympus ke dalam bahasa yang mudah dimengerti oleh manusia. Oleh karena itu, fungsi Hermes adalah penting karena ia mampu menginterpretasikan pesan dan menghindari kesalahpahaman pesan dari dewa (Sumaryono, 21 – 24).
Dengan demikian, hermeneutika akhirnya diartikan sebagai proses mengubah sesuatu atau situasi ketidaktahuan menjadi mengerti. Batasan ini berlaku bagi hermeneutika dalam pandangan klasik maupun modern. Hermeneutika dalam pandangan klasik, sebagaimana dalam Peri Hermeneias atau De Interpretatione karangan Aristoteles adalah bahwa kata-kata yang kita ucapkan adalah simbol dari pengalaman mental kita, dan kata-kata yang kita tulis adalah simbol dari kata-kata yang kita ucapkan (Sumaryono, 24).
Menurut Aristoteles, tidak ada satu pun manusia yang mempunyai bahasa tulisan maupun bahasa lisan yang sama dengan yang lain. Bahkan pengalihan arti dari bahasa yang satu ke bahasa yang lain juga dapat menimbulkan banyak masalah, baik bahasa tulisan maupun lisan. Dalam Categoriae, yang selalu didampingkan dengan De Interpretatione, Aristoteles memisahkan antara homonim, sinonim dan kata-kata turunan. Dalam hal-hal seperti ini, orang biasanya menurunkan arti kata-kata berdasarkan konteks yang ada. Akan tetapi ada juga beberapa kesulitan di mana kita tidak dapat menurunkan satu arti pun dari sebuah konteks, dan mungkin kita malah menurunkan arti atau makna dari konteks yang sama. Untuk itulah hermeneutika akan mempunyai peran yang penting (Sumaryono, 24 – 26).
Palmer mengatakan (2005, 38 – 49) bahwa bidang hermeneutika yang berkembang pada masa modern didefinisikan dalam enam bentuk yang berbeda. Sejak kemunculannya, hermeneutika menunjuk pada ilmu interpretasi, khususnya prinsip-prinsip eksegesis tekstual. Hermeneutika telah ditafsirkan secara kronologisnya sebagai (1) teori eksegesis Bibel, (2) metode filologi secara umum, (3) ilmu pemahaman linguistik, (4) fondasi metodologis Geisteswissenschaften, (5) fenomenologi eksistensi dan pemahaman eksistensial dan (6) sistem interpretasi, baik rekolektif maupun ikonoklastik, yang digunakan manusia untu meraih makna di balik mitos dan simbol. Masing-masing definisi tersebut merupakan tahapan-tahapan historis yang menunjuk suatu peristiwa atau pendekatan penting dalam persoalan interpretasi (Palmer, 38).
Dalam sejarahnya, hermeneutika terbagi atas beberapa cabang yaitu romantis, metodis, fenomenologis, dialektis, dialogis, kritis dan dekonstruksionis. Satu persatu jenis ini akan dibahas dalam artikel yang akan datang.

Comments
Post a Comment