Islam Amarah dan Islam Imarah


Beberapa abad yang lalu, Islam meraih masa kejayaannya. Di masa itu, semua ilmu pengetahuan, teknologi, pemerintahan dan kebaikan dikuasai Islam. Namun semakin ke belakang, umat Islam semakin jauh dari kejayaannya. Pada saat ini, Islam malah semakin tersingkir dari dunia akibat dari kejahatan oknum Muslim dan juga gerakan radikal mereka. Hal ini menambah kelam sejarah Islam dan menjadikannya sasaran empuk bagi kelompok yang tidak suka dengan Islam.

Pada saat dikuasai oleh para umara' yang adil dan ulama' yang shalih, Islam menjadi cahaya dalam kegelapan dunia Timur maupun Barat. Masa ini dapat kita katakan sebagai Islam Imarah, di mana umara' dan ulama Islam bersatu padu, rakyatnya juga taat kepada ulil amri dan nasehat ulama. Kenapa bukan Islam Khilafah? Karena khilafah Islam pada waktu itu sangat banyak, tidak hanya satu dan terdapat di berbagai daerah seperti 'Abbasiyyah di Baghdad, Umayyah di Al-Andalus, Fathimiyyah di Mesir dan kerajaan kecil lainnya. Mereka mempunyai tugas masing-masing. Umara' bertugas menjalankan strategi politik dan ekonomi, ulama menjalankan fungsi intelektual dan sosial dan rakyat menjadi pendukung setia umara' yang baik dan ulama' yang shalih.

Pada saat ini, ketiga elemen itu dipaksa untuk berpisah oleh ideologi yang tidak jelas. Misalnya umat Islam di Indonesia yang sudah menjadi Islam Imarah sejak kerajaan Demak, Mataram hingga Presiden Jokowi al-Indunisi dirusak oleh gerakan radikal dan takfiri. Umat Islam dipaksa menjadi Islam Amarah, yang suka marah-marah dan menyalahkan orang yang tidak sepaham dengan keyakinan dan pikirannya. Mereka dipaksa untuk jihad melawan pemerintah, mengganti ideologi Pancasila, mempunyai jenggot dan celana cingkrang, jidat hitam dan mengikuti ustadz mereka. Akibatnya, sinergi umara', ulama' dan rakyat harus berhenti di tengah jalan. Golongan seperti ini tidak suka akan kejayaan dan keharmonisan Islam di Indonesia, dan ingin hancur selama-lamanya dari bumi pertiwi. Dakwah mereka tidak sesuai ulama salaf, dan selalu mendengungkan khilafah yang khilaf.

Comments