Dalam menyebarkan agama Islam, Rasulullah SAW berdakwah dengan cara yang lembut dan santun. Di dalam QS. Ali Imran: 159 disebutkan jika Rasulullah berdakwah dengan cara keras, maka pasti tidak ada yang mengikuti beliau. Oleh karena itu, Rasulullah SAW berdakwah dengan hati yang lembut, perilaku yang terpuji dan dapat dijadikan suri tauladan. Beliau kemudian mengakomodir berbagai nama lokal yang dulu digunakan masyarakat kafir Quraisy seperti nama bulan, hari dan juga istilah-istilah mereka. Berbagai situs bersejarah bagi kaum kafir seperti pasar Ukadz, sumur pribadi hingga properti mereka tidak dirusak.
Perihal menghormati dan mengakomodir nilai-nilai yang baik ke dalam agama Islam, para sahabat ketika menaklukkan Syam, Mesir, dan negara lainnya kemudian merawat situs bersejarah yang ada. Situs seperti piramida, Sphinx, kuil Babilonia, gereja koptik di Mesir dan lainnya dibiarkan masih ada. Hal ini menunjukkan bagaimana para sahabat sangat menghargai karya masa lalu. Dinasti yang berkuasa kemudian hari juga tetap melestarikan situs bersejarah dan mengakomodir tradisi dan kearifan lokal. Misalnya tradisi pengairan, surat menyurat, administrasi kerajaan dan lainnya diakomodir dari kerajaa Romawi dan Persia. Sampai di semenanjung Nusantara, para pendakwah Islam juga masih melaksanakan metode yang digunakan oleh Rasulullah SAW.
Tradisi wayang yang menceritakan tokoh Hindu Budha masih dilestarikan, namun isinya diganti dengan cerita tasawuf. Blangkon dan batik tetap dipakai karena menunjukkan seni dan kearifan lokal yang tidak bertentanga dengan syariat Islam. Candi Borobudur, Prambanan, Gedongsongo masih dibiarkan begitu saja. Bahkan gapura dan Menara Kudus mengakomodir dari candi umat Hindu. Selametan yang awalnya diisi dengan mantra pemujaan kepada dewa-dewa diganti dengan doa keselamatan dunia dan akhirat. Begitulah dakwah metode Rasulullah SAW yang diikuti para sahabatnya, dan kemudian para penyiar agama Islam setelahnya sampai masa Walisongo di Jawa. Kemudian tradisi itu dilanjutkan oleh para kiai dan ulama shalih, yang menekankan adanya harmonisasi dan penghormatan kepada kebaikan yang ada dan mengambil sesuatu yang baru yang lebih baik (al-muhafadhah 'ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah.)

Comments
Post a Comment