Ulama salaf adalah panutan yang baik bagi umat Islam. Untuk mengetahui tradisi berfikir dan beramal mereka, maka seseorang harus banyak membaca buku atau kitab asli, dari tarajum, thabaqat, tarikh, siyar dan lainnya. Jika membaca dari terjemahan saja, maka pembaca akan salah memahami pikiran dan amaliah mereka. Membaca langsung dari sumber-sumber primer akan mengantarkan pada pemahaman yang komprehensif dan menyeluruh, tidak hanya mengikuti satu bagian atau aspek saja.
(Baca: Kuliah 1: Silsilah Kajian Etika Fatwa Ulama Salaf)
Misalnya adalah Ibn Taimiyyah. Beliau adalah ulama yang banyak diagungkan oleh para pengikutnya, termasuk yang fanatik terhadap beliau. Bahkan saking fanatiknya, mereka tidak melihat bagaimana Ibn Taimiyyah adalah manusia biasa yang punya salah dan juga kadang keliru dalam berfatwa. Misalnya ketika mengharamkan ziarah ke makam Rasulullah SAW, Ibn Taimiyyah diminta untuk klarifikasi dan dialog terbuka dengan ulama lainnya. Menyadari akan ketidaktepatan pemikirannya, beliau kemudian menarik kembali fatwanya. Misalnya juga keharaman tabarrukan menurut Ibn Taimiyyah. Ketika ia mendapatkan cerita bahwa Ahmad bin Hanbal meminum sisa air cucian pakaian gurunya, Imam al-Syafi'i sebagaimana dikatakan al-'Aini dalam 'Umdah al-Qari Syarh Shahih al-Bukhari Vol. IX halaman 241:
وَأما قَول الشَّافِعِي: وَمهما قبل من الْبَيْت فَحسن، فَإِنَّهُ لم يرد بالْحسنِ مَشْرُوعِيَّة ذَلِك، بل أَرَادَ إِبَاحَة ذَلِك، والمباح من جملَة الْحسن، كَمَا ذكره الأصوليون. قلت: فِيهِ نظر لَا يخفى، وَقَالَ أَيْضا: وَأما تَقْبِيل الْأَمَاكِن الشَّرِيفَة على قصد التَّبَرُّك، وَكَذَلِكَ تَقْبِيل أَيدي الصَّالِحين وأرجلهم فَهُوَ حسن مَحْمُود بِاعْتِبَار الْقَصْد وَالنِّيَّة، وَقد سَأَلَ أَبُو هُرَيْرَة الْحسن، رَضِي الله تَعَالَى عَنهُ، أَن يكْشف لَهُ الْمَكَان الَّذِي قبله، رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم، وَهُوَ سرته، فَقبله تبركا بآثاره وَذريته، صلى الله عَلَيْهِ وَسلم، وَقد كَانَ ثَابت الْبنانِيّ لَا يدع يَد أنس، رَضِي الله تَعَالَى عَنهُ، حَتَّى يقبلهَا، وَيَقُول: يَد مست يَد رَسُول الله، صلى الله عَلَيْهِ وَسلم، وَقَالَ أَيْضا: وَأَخْبرنِي الْحَافِظ أَبُو سعيد ابْن العلائي قَالَ: رَأَيْت فِي كَلَام أَحْمد بن حَنْبَل فِي جُزْء قديم عَلَيْهِ خطّ ابْن نَاصِر وَغَيره من الْحفاظ، أَن الإِمَام أَحْمد سُئِلَ عَن تَقْبِيل قبر النَّبِي، صلى الله عَلَيْهِ وَسلم، وتقبيل منبره، فَقَالَ: لَا بَأْس بذلك، قَالَ: فأريناه للشَّيْخ تَقِيّ الدّين بن تَيْمِية فَصَارَ يتعجب من ذَلِك، وَيَقُول: عجبت أَحْمد عِنْدِي جليل يَقُوله؟ هَذَا كَلَامه أَو معنى كَلَامه؟ وَقَالَ: وَأي عجب فِي ذَلِك وَقد روينَا عَن الإِمَام أَحْمد أَنه غسل قَمِيصًا للشَّافِعِيّ وَشرب المَاء الَّذِي غسله بِهِ، وَإِذا كَانَ هَذَا تَعْظِيمه لأهل الْعلم فَكيف بمقادير الصَّحَابَة؟ وَكَيف بآثار الْأَنْبِيَاء، عَلَيْهِم الصَّلَاة وَالسَّلَام؟
Hal tersebut menandakan bahwa berbagai ikhilaf yang ada adalah ikhtilaf yang membawa rahmat jika seseorang mau diajak berdiskusi dan terbuka dalam pemikirannya. Jika saja diajak diskusi tidak mau, apalagi menyalahkan orang yang tidak sependapat dengan dirinya, maka pertanda bahwa orang tersebut tidak mau mengikuti ulama salaf. Aplagi jika langsung menilai "antum diberitahu yang baik tidak mau, antum ikut Rasulullah atau tidak," "antum kok membantah terus, kayak bani Isra'il," dan lainnya mencerminkan dangkalnya pengetahuan seseorang. Ajakan yang baik adalah yang menerima ikhtilaf, mengikuti ulama salaf dan tidak suka menyalahkan atau menilai negatif yang tidak sependapat dengan dirinya. Apalagi sampai menyebabkan konflik dan mengganggu kenyamanan masyarakat. Jelas itu adalah dakwah model Abu Jahal dan kawan-kawannya.
(Baca: Intoleran dengan Masyarakat, MTA, HTI dan Sejenisnya Sering Picu Konflik)

Comments
Post a Comment