Sebagai sistem metodologi pemahaman, Hermeneutika romantis berangkat dari pertanyaan sederhana: “sebenarnya bagaimana pemahaman manusia dan bagaimana pemahaman itu terjadi?” Dan jawaban bagi pertanyaan ini, menurut perspektif Hermeneutika jenis ini, ada pada lima unsur yang terlibat dalam proses memahami sebuah wacana, yaitu: penafsir, teks, maksud pengarang, konteks historis, dan konteks kultural. (Raharjo, 57)
Tokoh dari pemahaman ini adalah Friedrich Ernst Daniel Schleiermacher (1768-1834), seorang filsuf, teolog, filolog dan tokoh sekaligus pendiri Protestanisme Liberal berkebangsaan Jerman. Schleiermacher dilahirkan di Breslau di Silesia, sebagai anak seorang pendeta tentara dari Gereja Reformasi di Prusia. Ia belajar di sebuah sekolah Moravia di Niesky di Lusatia Hulu, dan di Barby dekat Halle. Namun demikian, teologi Moravia yang pietis tidak berhasil memuaskan keragu-raguannya yang kian meningkat, dan dengan berat hati ayahnya memberikan kepadanya izin untuk masuk ke Universitas Halle, yang telah meninggalkan pietisme dan mengambil semangat rasionalis dari Friedrich August Wolf dan Johann Salomo Semler. Sebagai seorang mahasiswa teologi Schleiermacher mengambil kuliah mandiri dalam membaca dan mengabaikan pelajaran Perjanjian Lama dan bahasa-bahasa Oriental. Namun demikian, ia tetap mengikuti kuliah-kuliah, yang memperkenalkannya dengan teknik-teknik kritis sejarah dalam Perjanjian Baru, dan belajar pada Johann Augustus Eberhard, yang membuatnya mencintai filsafat Plato dan Aristoteles. Ia mempelajari filsafat Kant melalui tulisannya yang berjudul Kritik atas Akal Murni dan mengevaluasinya serta menerjemahkan tulisan Aristoteles yang berjudul Ethica Nicomachea (Sumaryono, 35 – 36).
Menurut Schleiermacher, ada dua tugas hermeneutik, yaitu (1) interpretasi gramatikal yang merupakan syarat berfikir bagi seseorang dan (2) interpretasi psikologis yang memungkinkan seseorang menangkap “setitik cahaya” pribadi penulis. Oleh karenanya, untuk memahami pernyataan-pernyataan pembicara, seseorang harus mampu memahami bahasanya sebaik memahami kejiwaannya. Semakin lengkap pemahaman seseorang atas sesuatu bahasa dan psikologi pengarang, akan semakin lengkap pula interpretrasinya (Sumaryono, 41).
Schleiermacher menawarkan rumusan positif dalam bidang seni interpretasi, yaitu rekonstruksi historis, obyektif dan subyektif terhadap sebuah pernyataan. Dengan rekonstruksi historis-obyektif, ia bermaksud membahas sebuah pernyataan dalam hubungan bahasa sebagai suatu keseluruhan. Dengan rekonstruksi historis-subyektif, ia bermaksud membahas sebuah pernyataan masuk dalam pikiran seseorang. Ia menyatakan bahwa tugas hermeneutika adalah memahami teks “sebaik atau lebih baik daripada pengarangnya sendiri” dan “memahami pengarang teks lebih baik daripada memahami diri sendiri” sebagaimana sejarawan yang menulis tentang suatu sejarah (Sumaryono, 41 – 42).
Ada beberapa taraf memahami, demikian dengan interpretasi. Taraf pertama adalah interpretasi dan pemahaman mekanis, seperti dalam kehidupan kita sehari-hari, di pasar, di jalan dan di mana saja. Taraf kedua adalah taraf ilmiah, yang dilakukan di universitas di mana diharapkan adanya taraf pemahaman dan interpretasi dengan dasar kekayaan pengalaman dan observasi. Taraf ketiga adalah taraf seni, di mana tidak ada aturan yang mengikat atau membatasi imajinasi (Sumaryono, 43).
Perspektif seperti ini yang membuatnya disebut sebagai hermeneutika romantis, yang dalam bahasa Gadamer disebut historical romanticism. Dimana pengarang dan segala latar belakang subjektivitasnya menjadi sentral kebenaran dari pemahaman suatu teks. Dan pemahaman harus mengikuti hukum bahwa “kesalahpahamanlah” yang justru muncul secara otomatis atau alamiah, sedangkan pemahaman harus dicari. Oleh karena itu pemahaman dapat dicari dengan cara menelusuri segala kesalahpahaman yang dapat dan mungkin terjadi.
Secara ringkas, model kerja hermeneutika romantis meliputi dua hal: pertama adalah pemahaman teks melalui penguasaan terhadap aturan-aturan sintaksis bahasa pengarang, dan kedua adalah penangkapan muatan emosional dan batiniah pengarang secara intuitif dengan menempatkan diri penafsiran dalam dunia batin pengarang.

Comments
Post a Comment