Siapa Kaum Salaf Itu?

Kaum salaf sering dielu-elukan dan digadang sebagai prototipe manusia yang sempurna setelah Rasulullah SAW. Namun siapakah sebenarnya kaum salaf itu? Apakah kaum salaf itu dibatasi oleh tahun tertentu, perilaku tertentu, panutan tertentu atau mazhab tertentu? Tentunya permasalahan tersebut akan dibahas satu persatu dalam tulisan ini. Imam al-Dzahabi, pengarang Siyar A'lam al-Nubala' dan kitab sejarah lainnya mengatakan bahwa kaum salaf dibatasi dengan tahun 300 H. Artinya setelah tahun itu, ulama tidak lagi disebut sebagai salaf namun sebagai ulama khalaf. Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah dalam Madarij al-Salikin juga mengamini pendapat Imam al-Dzahabi. Jadi jika merujuk pada al-Dzahabi dan Ibn al-Qayyim, maka imam mazhab empat dan juga pengarang al-kutub al-tis'ah masuk dalam ulama salaf. Namun Ibn al-Qayyim menambahkan jika ulama setelah tahun 300 H mengikuti metode ulama salaf, mereka juga disebut sebagai ulama salaf. Penilaian Ibn al-Qayyim ini dianggap tendensius karena hanya mengakui gurunya, Ibn Taimiyyah sebagai ulama salaf. Padahal al-Ghazali, dan gurunya al-Juwaini, juga merupakan ulama salaf yang hidup jauh sebelum Ibn al-Qayyim.



Jika mau adil dalam menilai salaf, maka yang dijadikan patokan bukan pendapat yang tendensius sebagaimana Ibn al-Qayyim, namun harus adil dan berimbang. Maka jika Ibn al-Qayyim mengatakan bahwa kaum salaf itu bisa menurut batasan tahun tertentu, dan juga mereka yang mengikuti perilaku ulama salaf dalam tahun tersebut, maka semua ulama yang masuk kriteria harus disebut sebagi ulama salaf. Jika kaum salaf adalah mereka yang mengikuti panutan tertentu dan mazhab tertentu seperti mengikuti Ibn Taimiyyah, maka pendapat Ibn al-Qayyim tidak relevan dan hanya mengakui kelompoknya saja.

Jika kita melihat ulama yang hidup dari masa Rasulullah SAW hingga tahun 300 H, maka kita dapat melihat bagaimana perilaku mereka yang dianggap sebagai generasi terbaik (khair al-qurun), yaitu dua generasi Rasulullah SAW, generasi tabi'in dan pengikut tabi'in. Perilaku mereka dapat diamati melalui berbagai kitab tarjamah, tarikh, rijal dan lainnya yang berkaitan dengan karakteristik kaum salaf. Jika mau membaca sebagian besar dari mereka, maka perilaku mereka tidak lepas dari sifat toleransi, menghargai pendapat orang lain, seimbang dunia akhirat, moderat dalam bertindak dan berperilaku, adil dalam menilai, amar makruf nahi munkar dan yang tidak boleh ketinggalan adalah tidak menyalahkan orang lain. Misalnya para ulama mazhab empat yang pada intinya mengatakan bahwa jika pendapatnya benar boleh diambil, jika salah maka boleh ditinggal. Namun orang sekarang lebih suka menganggap pendapatnya sendiri yang benar, yang lain salah. Juga mengatakan "bagiku agamaku bagimu agak maksa" yang jelas bertentangan dengan hadis dan sunnah Rasulullah SAW.

Comments