Samudera Al-Fatihah Karya Bey Arifin


Judul               : Samudera Al-Fatihah
Pengarang     : Bey Arifin
Penerbit         : PT. Bina Ilmu, Surabaya, Cet IV, April 1976.
Tebal              : xvi + 316 (beserta bibliografi)

Banyak penelitian membuktikan bahwa Indonesia memiliki khazanah yang sangat banyak di bidang tafsir. Sejak ditemukannya tafsir Tarjumanul Mustafid karya Abdurrauf as-Sinkili yang ditulis sekitar abad 16, penemuan karya-karya tafsir lain terus ditemukan, baik itu tafsir berbahasa Arab murni, atau berbahasa melayu pegon, bahkan yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia pun ada. Walau pada nyatanya ada sebagian naskah yang tidak sampai pada kita, hal itu tidak mengurangi fakta bahwa sejak Islam mulai tersebar di Indonesia para ulama kita telah memiliki kesadaran bahwa masyarakat Indonesia butuh tafsir yang sesuai dengan karakteristik local mereka terlepas apakah penafsiran mereka itu meliputi ayat al-Qur’an secara keseluruhan ataukan hanya sebagian saja (baca: surah tertentu).
Samudera Al-Fatihah hasil penafsiran Bey Arifin ini merupakan salah satu contoh kitab tafsir yang hanya menafsirkan sebagian ayat al-Qur’an saja, yakni khusus surah al-Fatihah. Ditulis dalam bahasa Indonesia yang lugas  membuat  tafsir ini mudah dipahami semua masyarakat Indonesia meskipun itu dari kalangan awam.
Pada prinsip-prinsip penafsirannya, Bey menafsirkan ayat per ayat. Beliau menyebutkan ayat yang hendak ditafsirkan kemudian menuliskan terjemahannya. Satu ayat berarti satu bab tersendiri. Dalam penafsirannya lebih jauh, beliau menjelaskan berbagai hal dalam kehidupan terkait kandungan ayat itu, semisal kapan ayat tersebut dibaca, apa keutamaannya, dan lain-lain yang berhubungan dengan konteks ayat itu. Diantara pendekatan yang beliau gunakan saat itu adalah historis –ini dilihat pada beberapa ayat, beliau menggunakan penjelasan sejarah untuk menjelaskan peristiwa terkait maksud ayat-,  pendekatan bahasa, dan fenomenologi –berangkat dari fenomena yang terjadi di masyarakat kemudian dihubungkan dengan ayat-. Masing-masing akan membentuk subbab-subbab baru di dalamnya. Ambil contoh tafsir basmalah. Setelah menuliskan ayat dan terjemahnya, Bey mulai menjelaskan bahwa basmalah selalu dibaca hampir di setiap awal aktivitas muslim, tidak terkecuali dalam shalat -pendekatan yang digunakan adalah fenomenologi-. Menurutnya, ini terkait dengan penyebutan nama Allah akan memberikan efek teologis dalam aktivitasnya. Maka penjelasan dimulai dengan ‘subbab’ nama-nama Allah, kapan nama-nama Allah digunakan (baca: saat berdoa), dilanjutkan dengan ‘subbab’ keutamaan basmalah, efek terhadap aktivitas, efek bagi pembaca, dan pengaruhnya akan hasil pekerjaan.
Jika penjelasannya itu terkait sains seperti dalam ayat hamdalah dengan mengambil kata kunci al-‘a>lami>n, beliau membahas tentang alam semesta, penciptaan dan susunannya, maka akan didapati bukti-bukti ilmiah yang mendukungnya dan tentunya penjelasan beliau tersebut dapat diterima oleh logika, selain memang beliau juga menyebutkan ayat-ayat al-Qur’an serta hadis untuk mendukung penjelasannya itu. Adapun metode yang digunakan penulis dalam menafsirkan lebih dekat pada metode tah}li>li> dengan penjelasan sebagaimana sebelumnya.
Tentang ciri local keindonesiaannya, selain dilihat dari tafsirnya yang berbahasa Indonesia, tafsir ini juga mengangkat konteks ke Indonesiaan semisal alam Indonesia, iklimnya bagaimana dan lain-lain bahkan ada penyebutan nama daerah tertentu di Indonesia dalam menjelaskan penafsirannya itu.

Dari buku ini, penulis mengakui banyak mendapat tambahan wawasan baru. Namun satu catatan dari penulis bahwa pengarang kitab terkesan kurang focus dalam penjelasannya. Mungkin karena ingin menujukkan bahwa Samudera al-Fatihah itu benar-benar dikehendaki sebagai samudera dimana keluasan dan kedalaman maknanya tidak terukur dan bertepi sehingga penjelasan pun tidak sistematis dan runut. Terlepas dari semua itu, buku jenis tafsir ini perlu diapresiasi setinggi-tingginya. Kontribusi yang diberikan buku ini dalam khazanah tafsir Indonesia era tahun 80-an perlu diacungi jempol, dibuktikan dalam jangka 8 tahun, buku ini telah dicetak empat kali.  

Comments