Aksi Bela Rohingya yang akan dilakukan oleh Partai Keadilan Sejahtera pada 16 September 2017 di Jakarta dianggap belum memberikan bantuan yang nyata kepada etnis Rohingya di Rakhine State. Apa sebabnya? Kekerasan dan penindasan umat Islam dan juga non-Muslim di Rakhine State butuh perjuangan diplomatik, lobi politik, penyaluran bantuan yang transparan dan akuntabel serta mobilisasi negara-negara lain untuk segera menekan pemerintah Myanmar agar segera menghentikan kekerasan.
Sebagai partai, PKS tentunya harus menggalang simpati politik dan diplomatik melalui pemerintah, bukan malah melakukan aksi yang tidak jelas dampaknya kepada pemerintah Myanmar. Kalau aksi boleh saja, tapi kenapa dilakukan di Patung Kuda sampai Bundaran Hotel Indonesia? Kenapa tidak bersatu padu dengan Presiden RI Jokowi al-Indunisi yang sudah melakukan lobi politik dan perjuangan diplomatik melalui Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi? Apakah hal itu tidak disadari PKS? Apakah Piagam Borobudur juga dianggap bid'ah karena menggunakan nama candi Budha(Baca: Piagam Borobudur, Hal Paling Bid'ah di Abad Ini)? Atau jaga image di hadapan para pendukungnya agar tidak terlihat bekerja sama dengan Jokowi yang dianggap antek Partai Komunis Indonesia?
PKS harusnya bukan hanya melakukan aksi, tapi juga menulis artikel yang berkualitas di opini majalah atau koran, yang online maupun cetak, yang nasional maupun internasional. PKS juga harus cerdas dalam melihat konflik Rohingya yang tidak hanya dibenturkan pada agama, tapi justru konflik ekonomi dan sosial sebagaimana diberitakan banyak media dan kajian forum diskusi seperti laporan analisis Gerakan Pemuda Anshor Nahdlatul Ulama.
Comments
Post a Comment