Alqur'an Untuk Memperbaiki Perilaku, Bukan Untuk Pamer dan Popularitas agar Laku

Rasulullah SAW dalam berbagai hadis dan sunnahnya selalu menekankan akan pentingnya akhlak atau karakter yang baik. Untuk itulah, tujuan utama Rasulullah SAW diutus adalah untuk memperbaiki tingkah laku. Dalam memperbaiki tingkah laku tersebut, salah satu sumbernya adalah Alqur'an dan Hadis. Begitu juga dengan atsar para ulama salafush shalih dan juga ulama yang memberikan tauladan yang baik. Di dalam Alqur'an, semua akhlak yang baik dan mulia sudah dikupas dan ditafsiri oleh para ulama. Oleh karena itu, Alqur'an menjadi way of life, jalan hidup yang diamalkan dan dipedomani sejak Rasulullah SAW hingga akhir zaman nanti.

Namun akhir-akhir ini banyak gerakan menghafalkan (tahfidh) Alqur'an, baik itu melalui televisi, media sosial maupun kegiatan organisasi masyarakat keagamaan. Namun apa yang ingin dicapai dengan gerakan ini? Menghafalkan Alqur'an walaupun hanya satu surat atau satu juz? Membaca Alqur'an satu hari satu juz? Mengajarkan dan menggemakan bacaan Alqur'an? Iya, salah satu yang ada di hadis tentang Alqur'an menyebutkan demikian. Namun, hadis tentang keutamaan dan pahala membaca atau menghafal Alqur'an tidak berhenti di situ saja. Ada berbagai peringatan tentang orang-orang yang niatnya tidak karena Allah dalam membaca atau menghafal, bahkan ada yang hanya membaca dan menghafal karena popularitas, pamer atau agar laku di masyarakat. Tentu hal ini sangat dilarang dan Alqur'an sendiri nanti yang akan melaknatnya.

Oleh karena itu, para ulama salaf tidak menekankan pada membaca satu hari satu juz atau menghafal Alqur'an itu sendiri, namun lebih kepada Alqur'an sebagai pedoman untuk berperilaku. Bukan berperilaku atas nama Alqur'an sebagaimana gerakan yang telah disebutkan sebelumnya. Imam al-Nawawi dalam al-Tibyan fi Adab Hamalah Al-Qur'an mengatakan:

وينبغي أن يؤدب المتعلم على التدريج بالآداب السنية والشيم المرضية ورياضة نفسه بالدقائق الخفية ويعوده الصيانة في جميع أموره الباطنة والجلية ويحرضه بأقواله وأفعاله المتكررات على الإخلاص والصدق وحسن النيات ومراقبة الله تعالى في جميع اللحظات ويعرفه أن لذلك تتفتح عليه أنوار المعارف وينشرح صدره ويتفجر من قلبه ينابيع الحكم واللطائف ويبارك له في علمه وحاله ويوفق في أفعاله وأقواله

Dalam pernyataan Imam al-Nawawi tersebut, orang tahapnya masih belajar Alqur'an pun harus menjaga dirinya dengan akhlak dan perilaku yang terpuji, ikhlas, jujur, niat yang baik, memperbaiki diri dan hati serta selalu lapang hati dan tetap baik dalam perilaku dan tutur katanya. Apalagi orang yang menghafal Alqur'an, maka harus menjaga dan melaksanakan hal tersebut.

Dengan beratnya tata cara belajar dan menghafal Alqur'an tersebut, maka para ulama salaf lebih menekankan pada memperbaiki perilaku dan tutur kata terlebih dahulu. Setelah perilaku dan ilmu mereka mencapai tahap kematangan dan puncak, maka mereka baru menghafalkan Alqur'an. Hal ini disebabkan agar hafalan atau bacaan Alqur'an yang mereka bawa tidak bertentangan dengan perilaku dan perkataan dirinya, sehingga Alqur'an nantinya benar-benar memberi pertolongan di hari akhir karena telah diamalkan dan dijaga lahir batin.

Jadi bagaimana dengan gerakan yang hanya membaca dan menghafalkan, tanpa memperbaiki diri? Bahkan cenderung dipromosikan, dikomersilkan dan dianggap bisa menaikkan strata sosial mereka? Atau bahkan yang penting bisa membaca dengan suara yang bagus, tanpa paham tafsir dan artinya serta ajaran yang terkandung di dalamnya? Apakah hanya dengan suara bagus, kemudian banyak diundang di sana dan di sini menjadikan seseorang sudah sangat hebat, melebihi para mufassir dan para kiai yang sepanjang hidupnya diwakafkan dan dikhidmahkan untuk umat Islam? Atau mereka lebih memilih Alqur'an daripada ilmu yang harus digunakan untuk memahami maknanya seperti nahwu, sharaf, balaghah, tafsir, ulumul Qur'an yang lebih sulit?

Comments