Indonesia, Surga yang Dijanjikan Setelah Al-Andalus

Jatuhnya Granada yang dikuasai umat Islam oleh kaum Nasrani pada 1429 menandai akhir masa Al-Andalus yang Islami di Semenanjung Iberia. Kejatuhan ini banyak diratapi oleh para ulama dan para penyair seperti Abu al-Baqa' dalam Nuniyyah-nya. Padahal, dulu Al-Andalus sebagai daerah terluar benua Asia dan Afrika sering diagung-agungkan sebagai surga yang dijanjikan (al-firdaus al-mau'ud). Berbagai konflik dan perebutan kekuasaan dalam internal umat Islam menjadi salah satu penyebab dari kejatuhan ini. Dalam sejarahnya, konflik yang berujung pada melemahnya kekuasaan suatu dinasti sudah menjadi hukum alam (sunnatullah) dan hal ini hampir saja terjadi di dunia Timur Tengah seperti Libya, Suriah, Yaman dan lainnya. Konflik bersaudara yang tak kunjung habis diramalkan akan menumbangkan kekuatan umat Islam.

Konflik terkini din Timur Tengah kemudian di bawa ke Indonesia oleh para Muslim garis kanan dan yang tidak ramah akan perbedaan. Padahal sejatinya Indonesia adalah surga yang dijanjikan setelah Al-Andalus. Kenapa? Ini alasannya:

1. Indonesia adalah negara yang gemah ripah loh jinawi, yang bhinneka tunggal ika sebagaimana di Al-Andalus. Al-Andalus mempunyai tanah yang subur yang diwarnai dengan kemajemukan suku bangsa dan agama seperti suku Quraisy, Norman, Vandal, Islam, Yahudi dan Kristen. Bahkan di Indonesia lebih dari itu, terdiri dari ratusan suku dan agama samawi juga lokal
2. Kehebatan para ulama Indonesia yang bisa menyebarkan Islam dengan singkat dan cepat di Nusantara. Diantaranya adalah Walisongo dengan berbagai murid dan keturunannya yang menyebarkan Islam dengan ramah dan santun. Begitu juga di Al-Andalus, para penakluk Islam tidak kemudian membunuh penduduk yang tidak mau masuk Islam, bahkan mereka dirangkul untuk membangun Al-Andalus

Dua alasan utama tersebut menjadikan Indonesia sebagai al-firdaus ba'da al-Andalus. Namun tentunya banyak alasan jika mengkajinya lebih lanjut dan juga mengaplikasikannya dalam masyarakat Indonesia, dengan menyongsong peradaban keilmuan dan keagamaan.

Comments