Intoleran dengan Masyarakat, MTA, HTI dan Sejenisnya Sering Picu Konflik


Gerakan radikal di Indonesia yang sering tidak toleran terhadap perbedaan pendapat sering menjadi pemicu konflik di masyarakat. Kelompok seperti Majelis Tafsir Alqur'an (MTA), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Forum Umat Islam (FUI) dan lainnya sangat keras dan kaku dalam gerakan dakwahnya. Hal ini menyebabkan mereka sering menimbulkan chaos dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Di Kudus misalnya, ada seorang yang mengikuti MTA tidak pernah datang ke acara kekeluargaan yang diadakan tetangganya. Ia lebih memilih untuk menjaga barang dagangan dan melayani pembelinya daripada hadir dalam acara kekeluargaan. Ia juga hampir saja melarang anaknya untuk sekolah di madrasah yang dikelola oleh Lembaga Pendidikan (LP) Ma'arif Nahdlatul Ulama Kudus. Untung saja istrinya membujuknya agar anaknya harus sekolah di madrasah tersebut.

Di Semarang sendiri, seorang dosen perguruan tinggi negeri (PTN) yang diduga pengurus MTA tertutup terhadap kajian keagamaan yang diajarkannya. Ia sangat kaku dan tidak toleran terhadap perbedaan yang dilontarkan oleh pemikiran mahasiswanya yang kritis. Ada juga dosen dan profesor PTN lain yang sering membagikan informasi hoax atau tulisan dari sejenis blog (blogspot.com, wordpress.com dan lainnya) yang kajiannya tidak akademis. Di Salatiga, ada juga dosen PTN yang dulunya merupakan anggota Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) yang mengusung Islam yang satu. Islam yang hanya satu inipun tidak terbuka untuk ditafsirkan, hanya Islam menurut pemahamannya yang benar. Ia pun kemudian banyak dikritik oleh teman-teman yang dulu satu pesantren karena pemikirannya yang sempit, dangkal dan tidak dinamis.

Beberapa pemikiran dosen di PTN tersebut yang kaku dan taken for granted nampaknya juga mempengaruhi mahasiswa dan kader-kadernya. Misalnya di sebuah PTN di Jawa Tengah, ada mahasiswa anggota HTI yang selalu copy paste tentang khilafah, tidak mau berdiskusi dan cenderung apologis terhadap pendapatnya. Ada juga anggota HTI yang berpenampilan sangat Islami, namun ternyata sering mendekati mahasiswa lainnya dengan iming-iming uang dan traktiran agar mau menjadi anggota HTI.

Gerakan dan aktivitas yang meresahkan tersebut berbenturan dengan kondisi masyarakat yang harmonis, rukun dan saling menghormati. Kelompok tersebut dikhawatirkan akan merusak suasana aman dan damai di masyarakat yang sudah terbentuk sejak kedatangan Walisongo di Indonesia. Gerakan dakwah mereka jelas sangat bertentangan dengan cara Rasulullah SAW, ulama salaf dan juga para Walisongo yang menyebarkan Islam dengan aman dan damai. Sebaliknya, kelompok intoleran ini datang untuk merusak Islam yang aman dan damai tersebut, atas nama kebenaran agama yang mutlak dan otoritas tunggal dalam memahami agama.

Comments