Kelompok-kelompok baru yang sering menilai salah dan keliru kelompok lain semakin berani, terlebih tidak adanya tanggapan dari mereka yang dinilai salah dan keliru. Sasaran mereka adalah orang-orang yang kurang pengetahuan agama dan seluk beluknya. Bukannya memberi pencerahan yang baik kepada orang-orang tersebut, kelompok baru ini malah mendoktrin dan semakin menjauhkan mereka dari Islam yang damai dan moderat. Fatwa yang disampaikan kelompok-kelompok ini pun sangat cepat direspon secepat kilat, tanpa adanya proses mencari akar masalah dan solusi perbedaan pendapat. Satu teks Alqur'an atau hadis pun dapan digunakan untuk menilai berbagai masalah yang dikemukakan, tanpa rujukan kepada komentar syarah hadis oleh para ulama salaf dan sebab turunnya Alqur'an atau munculnya hadis. Kaidah ulumul Qur'an atau ulumul hadis seakan tidak diperhatikan, khususnya terkait dengan ulumut tafsir dan ma'anil hadis.
Misalnya dalam situs Majlis Tafsir Al Qur'an, mta.or.id, dalam bagian sesi tanya jawab al-ustadz. Di dalamnya kita akan mendapatkan banyak hadis yang masih mempunyai penafsiran umum (common interpretation) digunakan sedemikian rupa untuk menjawab pertanyaan. Arah dari sarana dan tujuan suatu hadis tidak diperhatikan, bahkan hanya mengambil satu atau dua hadis dari kutub al-sittah tanpa penjelasan sabab wurudnya hadis tersebut. Bahkan jawaban dari situs ini pun dianggap banyak mengambil dari situs lain, misalnya tentang definisi sunnah. Silahkan bandingkan antara penjelasan sunnah versi MTA ini dengan versi Muhammadiyah ini. Terlihat bahwa versi panjang penjelasan sunnah oleh Muhammadiyah dianggap lebih dahulu, orisinil dan lebih jelas daripada yang ada dalm situs MTA. Penelitian video-video MTA oleh Drs. A. Sukino oleh Majlis Ulama Islam (MUI) Jawa Tengah juga menunjukkan bahwa penguasaan hadis dianggap kurang dan menganggap hadis jelas disebutkan dalam kutub al-sittah tidak ada padahal jelas ada. Kurangnya rujukan primer dalam bahasa Arab dan tafsir serta syarah kitab hadis yang sudah dikaji oleh ribuan ulama tidak banyak dicantumkan.
Dalam situs yang lain, misalnya Salafy.or.id malah lebih gila lagi. Mereka hanya mengambil dari kitab terjemahan, tanpa menulis kitab aslinya seperti kajian tentang Surat al-Qari'ah. Bahkan penjelasannya cenderung mendiskreditkan wanita dengan mengutip hadis-hadis yang misoginis sebagaimana dalam sikap istri yang memusuhi dakwah salaf. Website ini juga banyak mengambil fatwa dari Syaikh al-'Utsaimin. Kenapa tidak langsung saja kepada Ibn Taimiyyah atau Ibn al-Qayyim, yang dianggap lebih salaf dan menjadi panutan mereka? Lagi-lagi, penguasaan materi dalam kitab menyebabkan beberapa pilihan fatwa instan sulit dihindari.
Di situs Muslim.or.id juga demikian. Mereka hanya menyarikan dari kitab atau menerjemahkan fatwa dari internet yang berbahasa asing. Misalnya dalam keterangan tentan keutamaan dan keistimewaan air zamzam serta adab berinteraksi dengan wanita di internet. Beberapa ayat Alqur'an dan hadis juga digunakan secara bebas, tanpa banyak menukil dari kajian ulama salafush shalih seperti para syurrah hadis ternama. Lalu bagimana website ini mengaku mengikuti salafush shalih?
Dari ketiga kasus situs tersebut, dapat disimpulkan bahwa tidak banyak kajian langsung kepada karya salafush shalih. Yang dijadikan rujukan dan kutipan hanya orang-orang khalaf, yang pendapatnya sudah tidak murni lagi dari para salafush shalih. Minimnya penguasaan gramatika bahasa Arab ala kitab gundul juga menyebabkan mereka mengambil dari terjemahan yang sudah jadi karena lebih instan. Situs-situs tersebut juga tidak menyajikan silang pustaka (cross-reference) dalam kajiannya, yang cenderung tidak mengakui pendapat lain dan menganggap pendapatnya sendiri paling benar dan harus diikuti. Kurangnya literasi ini menyebabkan kelompok ini sangat eksklusif, cenderung tidak mau menerima pendapat orang lain dan amaliah yang sudah lama mengakar dan berlaku di dalam masyarakat.
Misalnya dalam situs Majlis Tafsir Al Qur'an, mta.or.id, dalam bagian sesi tanya jawab al-ustadz. Di dalamnya kita akan mendapatkan banyak hadis yang masih mempunyai penafsiran umum (common interpretation) digunakan sedemikian rupa untuk menjawab pertanyaan. Arah dari sarana dan tujuan suatu hadis tidak diperhatikan, bahkan hanya mengambil satu atau dua hadis dari kutub al-sittah tanpa penjelasan sabab wurudnya hadis tersebut. Bahkan jawaban dari situs ini pun dianggap banyak mengambil dari situs lain, misalnya tentang definisi sunnah. Silahkan bandingkan antara penjelasan sunnah versi MTA ini dengan versi Muhammadiyah ini. Terlihat bahwa versi panjang penjelasan sunnah oleh Muhammadiyah dianggap lebih dahulu, orisinil dan lebih jelas daripada yang ada dalm situs MTA. Penelitian video-video MTA oleh Drs. A. Sukino oleh Majlis Ulama Islam (MUI) Jawa Tengah juga menunjukkan bahwa penguasaan hadis dianggap kurang dan menganggap hadis jelas disebutkan dalam kutub al-sittah tidak ada padahal jelas ada. Kurangnya rujukan primer dalam bahasa Arab dan tafsir serta syarah kitab hadis yang sudah dikaji oleh ribuan ulama tidak banyak dicantumkan.
Dalam situs yang lain, misalnya Salafy.or.id malah lebih gila lagi. Mereka hanya mengambil dari kitab terjemahan, tanpa menulis kitab aslinya seperti kajian tentang Surat al-Qari'ah. Bahkan penjelasannya cenderung mendiskreditkan wanita dengan mengutip hadis-hadis yang misoginis sebagaimana dalam sikap istri yang memusuhi dakwah salaf. Website ini juga banyak mengambil fatwa dari Syaikh al-'Utsaimin. Kenapa tidak langsung saja kepada Ibn Taimiyyah atau Ibn al-Qayyim, yang dianggap lebih salaf dan menjadi panutan mereka? Lagi-lagi, penguasaan materi dalam kitab menyebabkan beberapa pilihan fatwa instan sulit dihindari.
Di situs Muslim.or.id juga demikian. Mereka hanya menyarikan dari kitab atau menerjemahkan fatwa dari internet yang berbahasa asing. Misalnya dalam keterangan tentan keutamaan dan keistimewaan air zamzam serta adab berinteraksi dengan wanita di internet. Beberapa ayat Alqur'an dan hadis juga digunakan secara bebas, tanpa banyak menukil dari kajian ulama salafush shalih seperti para syurrah hadis ternama. Lalu bagimana website ini mengaku mengikuti salafush shalih?
Dari ketiga kasus situs tersebut, dapat disimpulkan bahwa tidak banyak kajian langsung kepada karya salafush shalih. Yang dijadikan rujukan dan kutipan hanya orang-orang khalaf, yang pendapatnya sudah tidak murni lagi dari para salafush shalih. Minimnya penguasaan gramatika bahasa Arab ala kitab gundul juga menyebabkan mereka mengambil dari terjemahan yang sudah jadi karena lebih instan. Situs-situs tersebut juga tidak menyajikan silang pustaka (cross-reference) dalam kajiannya, yang cenderung tidak mengakui pendapat lain dan menganggap pendapatnya sendiri paling benar dan harus diikuti. Kurangnya literasi ini menyebabkan kelompok ini sangat eksklusif, cenderung tidak mau menerima pendapat orang lain dan amaliah yang sudah lama mengakar dan berlaku di dalam masyarakat.
Comments
Post a Comment