Berbagai berita negatif, hoax dan mengadu domba bhinneka tunggal ika di Indonesia marak terjadi akhir-akhir ini. Terlebih dengan tertangkapnya kelompok Saracen oleh polisi beberapa waktu lalu. Menurut Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Pol Martinus Sitompul pada Selasa (12/9/2017), ujaran kebencian turun sekitar 20-30 persen usai Saracen ditangkap. Kelompok ini disebut sebagai dalang penyebaran kebencian di media sosial dan maya, utamanya ketika menghadapi pemilihan kepada daerah (Pilkada) dengan menyebarkan konten negatif, hoax, fitnah dan lainnya.
Hari demi hari, kelompok penyebar ujaran kebencian itu mulai banyak yang ditangkap. Dengan begitu, berbagai afiliasi kelompok dan organisasi ini mulai banyak terungkap. Misalnya adalah Asma Dewi, Eks Bendahara Alumni 212, yang tertangkap setelah melakukan transfer 75 juta ke pengurus Saracen. Ia juga menjadi koordinator Tamasya al-Ma'idah di Pilkada Jakarta 2017. Begitu juga Dodik Ikhwanto, yang menghina ibu negara, Iriana Joko Widodo karena ketidaksukaannya terhadap pemerintah. Atau Sri Rahayu, penghina Presiden Jokowi yang ditangkap lebih dahulu. Orang yang diduga menjadi pengurus Saracen, seperti pengacara Eggi Sudjana pun menjadi incaran polisi, yang kemudian mengelak dan lebih memilih umrah. Begitu juga dengan Jon Riah Ukur atau Jonru, yang tidak mau mengakui fitnahnya kepada Presiden Joko Widodo.
Berbagai fenomena ini adalah metamorfosis Musailamah, seorang yang mengaku nabi dan selalu memusuhi Rasulullah SAW. Neo-Musailamah, sebutan untuk penerus perilaku Musailamah sekarang, dianggap bertanggungjawab atas terusiknya keharmonisan dan kerukunan kehidupan berbangsa dan bermasyarakat. Neo-Musailamah ini lebih kejam dari Musailamah sendiri, dimana ia hanya memusuhi Rasulullah sebagai pribadi dan umat Islam di Hijaz. Namun Neo-Musailamah ini memusuhi ratusan juta umat Islam dan non-Muslim, makar memusuhi pemerintah, menebar kebencian dan fitnah demi uang, melakukan kejahatan terorganisir, tidak hanya mengaku tapi juga menjadi pelaku ujaran kebencian, menggadaikan iman dan kerukunan hanya demi permintaan pemesan. Neo-Musailamah harus diwaspadai, karena mereka bukan hanya bergelar al-kadzdzab, tapi juga al-dajjal al-wadldla', gelar tertinggi dan berlapis bagi para penipu dan pemalsu informasi yang tidak ada sejarahnya dalam umat Islam kecuali menjadi benalu dan musuh dalam selimut.

Comments
Post a Comment