Tradisi salaman setelah menunaikan shalat wajib di Indonesia tidak dianggap bid'ah. Tradisi ini sudah lama ada di Indonesia sejak kehadiran Islam di negara gemah ripah loh jinawi ini. Ada tiga alasan bahwa salaman ini ditradisikan oleh ulama salaf Indonesia yaitu:
1. Salaman merupakan simbol kedamaian dan kedekatan antar sesama Muslim. Simbol ini merupakan simbol kemanusiaan dan peradaban di mana dalam kondisi damai umat Islam dapat bebas menjalankan syariat dan ajarannya dengan bebas. Lihat saja di negara-negara konflik di mana umat Islam tidak dapat dengan bebas melaksanakan ibadah dan muamalah. Bahkan di negara konflik yang beragama Islam seperti Irak, Suriah, Yaman, Libya dan lainnya. Untuk hidup dan bersosialisasi pun sangat sulit, apalagi menuju peradaban seperti kejayaan umat Islam pada abad pertengahan.
2. Salaman banyak disebutkan dalam teks Alqur'an dan hadis. Coba saja buka indeks Alqur'an dan hadis tentang salima, salam dan berbagai derivasi dari huruf sin, lam dan mim. Kalau mau lebih detail, bisa dibuka dalam kamus arab level satu seperti Maqayis al-Lughah, Lisan al-'Arab dan lainnya. Pastinya salaman adalah tradisi yang baik dan tidak dibid'ahkan
3. Salaman di masjid atau langgar setelah shalat wajib juga tidak bertentangan dengan teks Alqur'an dan hadis. Kalau dipermasalahkan kenapa salamannya setelah shalat, tidak sebelum shalat? Kan yang disunnahkan ketika bertemu? Nah inilah istimewanya salaman di Indonesia. Ketika bertemu di masjid atau langgar kan tujuannya untuk shalat bukan untuk yang lain? Maka karena tujuan utamanya adalah shalat yang hukumnya wajib dan harus didahulukan, salaman akhirnya diletakkan setelah shalat. Lagian di Indonesia, salaman setelah shalat sudah mengakar sudah lama dan tidak banyak yang mempermasalahkan.
2. Salaman banyak disebutkan dalam teks Alqur'an dan hadis. Coba saja buka indeks Alqur'an dan hadis tentang salima, salam dan berbagai derivasi dari huruf sin, lam dan mim. Kalau mau lebih detail, bisa dibuka dalam kamus arab level satu seperti Maqayis al-Lughah, Lisan al-'Arab dan lainnya. Pastinya salaman adalah tradisi yang baik dan tidak dibid'ahkan
3. Salaman di masjid atau langgar setelah shalat wajib juga tidak bertentangan dengan teks Alqur'an dan hadis. Kalau dipermasalahkan kenapa salamannya setelah shalat, tidak sebelum shalat? Kan yang disunnahkan ketika bertemu? Nah inilah istimewanya salaman di Indonesia. Ketika bertemu di masjid atau langgar kan tujuannya untuk shalat bukan untuk yang lain? Maka karena tujuan utamanya adalah shalat yang hukumnya wajib dan harus didahulukan, salaman akhirnya diletakkan setelah shalat. Lagian di Indonesia, salaman setelah shalat sudah mengakar sudah lama dan tidak banyak yang mempermasalahkan.
Salaman dianggap bid'ah dan tidak layak dilakukan karena tidak ada dalam sunnah Rasulullah adalah hal yang terlalu tergesa-gesa. Apalagi sampai mengharamkan dan tidak mau salaman setelah shalat, dianggap sebagai orang yang tidak mau menyebarkan kedamaian dan kedekatan antar sesama Muslim.
Masalah damai tidak damai ini memang spekulatif, maka untuk membuktikannya perlu diadakan survei dan penelitian lapangan, bukan murni dengan teks keagamaan. Malah fenomena di lapangan memberikan kajian yang lebih banyak dalam teks keagamaan. Hal ini ditunjukkan dengan adanya perkembangan berkelanjutan mazhab, dari kitab fikih dan hadis yang sangat kecil pada abad 2-3 H hingga munculnya berbagai permasalahan yang semakin kompleks hingga abad ke 15 H ini.
Adanya permasalahan menuntut umat Muslim untuk mengkaji dan mendalaminya guna dibahas dan dicarikan jalan keluar, bukan dikembalikan pada zaman Rasulullah saja. Itulah mazhab dan manhaj ulama salaf yang mengajarkan dan mengantarkan pada kejayaan umat Islam.
Comments
Post a Comment