![]() |
| Daftar ustadz yang dianggap sunnah menurut golongannya |
Sunnah Rasulullah SAW mencakup semua perilaku, tindakan, perkataan dan akhlak beliau. Belakangan banyak yang mengaku mengikuti sunnah Rasulullah SAW, padahal gramatika bahasa Arab saja tidak tahu. Bahkan ada yang mengaku-ngaku ustadz sunnah, yang diartikan sebagai mereka yang mengikuti Alqur'an dan Sunnah sesuai pemahan salafush shalih, menyeru kepada tauhid, memberantas kesyirikan, mengajak keapda sunnah dan meninggalkan bid'ah. Namun, apakah mereka benar-benar mengikuti sunnah Rasulullah SAW dalam kehidupan dan metode dakwahnya?
Sebagaimana diketahui, sunnah Rasulullah adalah sunnah nabawiyyah yang tidak sembarang orang bisa mengikuti. Bahkan sahabat pun tidak sampai bisa meniru semua akhlak dan perilaku beliau, kecuali hanya sedikit. Berikut adalah beberapa sunnah Rasulullah SAW yang perlu diketahui:
- Sejak kecil, Rasulullah disusui bukan oleh ibu kandungnya, melainkan orang lain yang hidup jauh di pedesaan. Adakah ustadz sunnah yang disusui oleh bukan ibunya sejak lahir?
- Rasulullah menjadi penggembala dan pedagang sebelum menikah. Adakah di daftar ustadz sunnah yang menjadi penggembala?
- Rasulullah SAW menikah umur 25 tahun, dengan seorang janda mulia yang kaya raya berusia 40 tahun. Adakah dari ustadz tersebut yang menikah pada umur 25 dengan janda usia 40 tahun?
- Rasulullah mengislamkan banyak orang musyrik dengan jalan damai, negosiasi, diplomasi, bahkan menghormati tradisi yang tidak bertentangan pada saat itu. Apakah dengan dakwah ustadz sunnah yang suka menyalahakn sesama Muslim, bahkan tidak segan-segan menganggap pendapatnya paling benar, semuai itu sesuai dengan ajaran Rasulullah?
- Rasulullah bisa menghasilkan Piagam Madinah, yang merupakan negosiasi yang hebat, yang mempersatukan umat Islam Muhajirin dan Anshor, serta mendamaikan umat Yahudi dan Nasrani. Apakah dakwah ustadz sunnah yang eksklusif, yang tidak mau berdialog dengan pemahaman umat Muslim lain, dan cenderung menganggap pemahaman yang tidak sesuai dengan mereka tidak dianggap sunnah dan merupakan bid'ah, dicontohkan oleh Rasulullah?
- Rasulullah SAW berbicara dengan bahasa Arab yang fashih dan benar serta perilaku dan perkataannya menjadi tauladan bagi semuat umat Muslim, Yahudi, Nasrani dan kaum musyrik lainnya. Dengan demikian, banyak yang masuk Islam dan mengikuti Rasulullah karena uswatun hasanah-nya. Ustadz sunnah yang mengaku-ngaku pengikut Rasulullah itu, yang sering didemo oleh banyak orang, sering menyampaikan pendapat yang kontroversial, yang Muslim malah dianggap syirik, yang baik malah disesat-sesatkan, apakah dianggap mengikuti sunnah Rasulullah?
- Apalagi banyak dari mereka yang hanya konsumsi dari kitab terjemahan, tidak tahu gramatika bahasa Arab, tidak tahu kitab kamus Arab seperti Maqayis al-Lughah, Lisan al-'Arab, al-Shihah dan lainnya yang banyak menjelaskan makna teks sunnah dan hadis yang sangat luas penjelasannya. Sedangkan ustadz sunnah hanya mengambil makna literal. Apakah mereka dianggap mengikuti ulama salaf?
- Dakwah sunnah menurut ulama salaf seperti Ibn Taimiyyah adalah dakwah yang toleran terhadap pendapat lain, menghargai orang lain, moderat, tidak suka menyalahkan orang lain, tidak menganggap pendapatnya sendiri paling benar, ramah dan santun dalam menilai. Apakah para ustadz sunnah yang mengaku paling sunnah dan suka menyalahkan orang lain tanpa mau tabayun atau dialog dianggap mengikuti ulama salaf?
- Ulama mazhab empat dan lainnya mengatakan bahwa "pendapatku benar, tapi mungkin ada kesalahan di dalamnya, sedangkan pendapat orang lain salah, tapi mungkin ada kebenaran di dalamnya" sebagai sikap ilmiah yang dialogis, kritis dan interaktif. Ustadz sunnah yang tidak mau dialog, tidak mau dikritisi dan tidak interaktif apakah dianggap mengikuti ulama salaf?
Jelas jika ada salah satu jawaban dari sembilan poin di atas ada yang tidak, maka jelas mereka adalah ustadz sunnah yang tidak mengikuti sunnah, yang hanya mengaku di mulutnya saja, tetapi perilaku mereka sungguh tidak mengikuti Rasulullah SAW. Padahal menurut hadis Rasulullah SAW, Allah tidak melihat status atau penampilan seseorang, tapi melihat hati mereka yang sungguh-sungguh dan ikhlas dalam beribadah dan beragama, bukan yang suka mencari kesalahan, menyalahkan atau bahkan tidak mau menganggap kalau dirinya salah.

Comments
Post a Comment