Pada dasarnya semua obyek adalah netral sebab obyek adalah obyek. Benda-benda tidak bermakna pada dirinya sendiri. Hanya subyeklah yang kemudian memberi pakaian arti pada obyek. Arti atau makna diberikan kepada obyek lewat subyek sesuai cara pandang subyek. Jika tidak demikian, maka obyek menjadi tidak bermakna sama sekali. Husserl mengatakan bahwa obyek dan makna tidak pernah terjadi serentak atau bersama-sama, sebab pada mulanya obyek adalah netral. Meskipun arti atau makna muncul sesudah obyek atau obyek menurunkan maknanya atas dasar situasi obyek, semuanya adalah sama saja. Disinilah letak keunggulan hermeneutika (Sumaryono, 30).
Emilio Betti mengatakan bahwa tugas orang yang melakukan interpretasi adalah menjernihkan persoalan mengerti, yaitu dengan cara menyelidiki setiap detail proses interpretasi serta merumuskan sebuah metodologi untuk mengukur subyektivisme terhadap interpretasi obyektif yang diharapkan. Ia memandang interpretasi sebagai sarana mengerti (Sumaryono, 31).
Kegiatan interpretatif adalah proses yang bersifat triadik antara teks, pengarang dan pembaca. Dalam proses ini terdapat pertentangan antara pikiran yang diarahkan pada obyek dan yang diarahkan pada penafsir itu sendiri. Orang yang melakukan interpretasi harus mengenal pesan atau kecondongan teks, lalu meresapi isi teks sehingga pada mulanya “yang lain” kini menjadi “aku” penafsir itu sendiri. Hukum Betti tentang interpretasi adalah “makna bukanlah diambil dari kesimpulan, melainkan harus diturunkan” dan bersifat instruktif. Jadi penafsir tidak boleh bersikap pasif, ia harus merekonstruksi makna. Alatnya adalah cakrawala intelektual penafsir, pengalaman masa lalu, hidupnya saat ini serta latar belakang kebudayaan dan sejarah yang ia miliki (Sumaryono, 31).
Bila dijabarkan lebih lanjut tentang hermeneutika ke ruang lingkup yang lebih luas, maka akan kita dapatkan bahwa setiap obyek tampil dalam konteks ruang dan waktu yang sama (istilah Karl Jaspers adalah Umgreifende atau cakrawala ruang dan waktu). Pada kenyataannya, tidak ada obyek yang berada dalam keadaan terisolir. Setiap obyek berada dalam ruang. Selalu ada kerangka referensi, dimensi, sesuatu batas, nyata atau semu, yang semuanya memberi ciri khusus pada obyek. Meskipun hermeneutika atau interpretasi termuat dalam kesusastraan dan linguistik, hukum, sejarah, agama dan disiplin ilmu lainnya yang berhubungan dengan teks, namun akarnya adalah tetap filsafat (Sumaryono, 33).
Hermeneutika pada dasarnya mengundang kita untuk melihat lebih detail bahasa yang kita gunakan, yaitu sebagai alat untuk mengerti dan memahami serta sekaligus sebagai penyebab salah mengerti atau salah faham. Bahasa akan menjadi pusat bahasan hermeneutika sejauh hal itu menyatakan keseluruhan jaringan sejarah, kebudayaan, kehidupan dan nilai-nilai yang merupakan petunjuk ke arah interpretasi (Sumaryono, 139).
Sebagai metode, hermeneutika tidak dapat disejajarkan dengan metode penelitian ilmiah yang sifatnya ketat dan baku, sementara hermeneutika sifatnya luwes dan fleksibel. Oleh karena itu, Dilthey membedakan antara Naturwissenschaften dan Geisteswissenschaften dimana perbedaannya terletak pada validitas pengukurannya (Sumaryono, 139 – 140).
Hermeneutika sebagai metode pembahasan filsafat akan selalu relevan, sebab kebenaran yang diperoleh tergantung pada orang yang melakukan interpretasi dan “dogma” hermeneutika bersifat luwes sesuai dengan perkembangan zaman dan sifat keterbukaannya (Sumaryono, 142).

Comments
Post a Comment