Sunnah Rasulullah SAW sangat beragam, mulai dari perilaku, pakaian, perkataan, dakwah hingga akhlak. Banyak yang kemudian menyalahartikan bahwa sunnah hanya terbatas pada pakaian dan tampilan fisik saja. Misalnya adalah orang-orang yang suka mendakwahkan sunnah jenggot, jidat hitam dan celana cingkrang. Pendapat seperti ini tidak hanya menyempitkan sunnah Rasulullah SAW saja, tetapi juga tidak mau mengikuti perilaku, dakwah hingga akhlak beliau yang menjadi suri tauladan bagi umat Islam.
(Baca: Ustadz Sunnah yang Tidak Mengikuti Sunnah)
Celana cingkrang, misalnya, menunjukkan bagaimana penganut aliran ini tidak bisa memastikan apakah Rasulullah SAW memakai celana atau tidak. Atau apakah beliau melihat cingkrang sebagai perintah yang wajib dan ditaati atau tidak. Padahal di hadis yang lain banyak menyebutkan bagaimana beliau memerintahkan untuk memakai pakaian yang bagus, indah dan juga tidak menimbulkan fitnah bagi orang lain. Celana cingkrang jelas tidak menunjukkan pakaian yang bagus karena terkesan menghemat kain yang akan dijahit. Juga pasti tidak indah karena tidak mencerminkan kesesuaian antara kaki dan jarak mata kaki yang terbuka. Dan terakhir adalah jelas menjadi fitnah karena di Indonesia pakaian cingkrang adalah pertanda seseorang sedang terkena banjir atau sedang ke sawah untuk mengolah lahan, bukan digunakan untuk ke masjid.
(Baca: Kenali Empat Modus Kelompok Intoleran di Lingkungan Sekitar)
Terakhir bahwa celana cingkrang menunjukkan pakaian yang tidak hanya tidak Islami, tapi juga tidak ihsani, tidak mencerminkan estetika dan perilaku pemakaianya. Celana cingkrang masih banyak menguasai shaf-shaf yang harusnya bisa diisi oleh orang banyak. Tidak hanya itu, mereka juga dianggap banyak menguasai tempat ibadah dan majlis taklim yang didirikan susah payah oleh masyarakat. Terakhir, mereka mengajak dakwah tidak dengan mau'idhah hasanah, tapi dengan tantangan fisik dan psikis jika tidak mau mengikuti pemahaman mereka. Na'udzu bi Allah.

Comments
Post a Comment