Definisi Taqwa, Dari Masa Klasik Hingga Modern


Secara etimologi, taqwa berasal dari kalimat waqa (waw, qaf dan ya’) yang berarti menghindari sesuatu dari sesuatu dengan sesuatu yang lain. Adapun wiqayah berarti sesuatu yang menghindarkan sesuatu. Makna dari ittaqi Allah adalah jadikan penghindaran antara kamu dan Allah.

Menurut al-Asfihani, waqa wiqayah tiadalah melindungi sesuatu dari segala yang bisa menyakiti dan membahayakan. Taqwa adalah menjadikan diri dalam menghindari sesuatu yang ditakuti (min ma yukhaf) kemudian al-khauf ini sering disebut taqwa dan taqwa disebut khauf. Kemudian dalam definisi syari’at, taqwa adalah melindungi diri dari sesuatu yang bisa menyebabkan dosa dengan cara meninggalkan hal-hal yang dilarang (al-mahzur).

Adapun secara terminologi, terdapat beberapa perbedaan definisi. Menurut Ahmad bin Hanbal, taqwa adalah meninggalkan apa yang disukai karena sesuatu yang ditakuti.  Menurut Rasyid Rida, taqwa adalah menjadikan perlindungan antara kita dan murka Allah dengan menghindari sebab-sebab yang mengecewakan atau merendahkan di dunia dan adzab di akhirat.

Quraish Shihab mendefinisikan taqwa dari segi bahasa yang berarti "keterhindaran", yakni  keterhindaran dari siksa Tuhan, baik di dunia maupun di akhirat. Siksa Tuhan di dunia adalah akibat pelanggaran terhadap hukum-hukum (Tuhan yang berlaku di) alam ini, sedang siksa-Nya di akhirat adalah akibat pelanggaran terhadap hukum-hukum syariat. Hukum Tuhan di dunia yang berkaitan dengan makanan misalnya adalah: siapa yang makan makanan kotor atau berkuman, maka dia akan menderita sakit.

Penyakit -akibat pelanggaran ini- adalah siksa Allah di dunia. Jika demikian, maka perintah bertakwa pada sisi duniawinya dan dalam konteks makanan, menuntut agar setiap makanan yang dicerna tidak mengakibatkan penyakit atau dengan kata lain memberi keamanan bagi pemakannya. Ini tentu di samping harus memberinya keamanan bagi kehidupan ukhrawinya.

Comments