Salah satu kewajiban muslim adalah menerima al-Sunnah al-Nabawiyah yang telah dishahihkan sesuai dengan kaidah-kaidah yang telah ditetapkan oleh para ahli. Maka, tidak dibenarkan jika ia menolak hadis-hadis tersebut hanya karena hadis tersebut tak sesuai atau berlawanan dengan apa yang telah ia ketahui atau alami sebelumnya. Karena, agama Islam, adakalanya membawa hal yang membingungkan akal, akan tetapi ia takkan pernah mustahil bagi akal. Jika memang diperkirakan adanya suatu yang bertentangan, yang demikian pasti disebabkan adanya suatu kekeliruan, baik dari nukilan (dari sumber agama) yang tidak shahih ataupun kesimpulan akal yang kurang “lurus” dan gamblang.
Alam barzakh merupakan salah satu perbincangan yang berbicara pada ranah eskatologi. Bahasannya jauh diluar kapasitas nalar manusia, dikarenakan minimnya pengetahuan manusia, sedang ilmu Allah amatlah luas. Akan tetapi, mungkin karena memang dilatarbelakangi oleh hal tersebut, pembahasan dan perdebatan seputarnya seakan tiada berkesudahan.
Barzakh, diyakini sebagai tempat manusia berada setelah ia meninggalkan jasadnya, untuk kemudian pada akhirnya akan dibangkitkan dan dimintai pertanggungjawaban. Akan tetapi, manusia yang masih hidup di dunia tak ada yang dapat mengetahui peristiwa yang terjadi di alam kubur. Tak heran, perbincangan mengenai hari kebangkitan dan hari akhir selalu membuahkan banyak spekulasi. Manusia ingin mengetahui kapan hari tersebut terjadi, bagaimana proses terjadinya, apa saja pengaruhnya terhadap manusia, atau bahkan apakah hal-hal tersebut memang benar-benar akan terjadi atau tidak.
Makalah ini sedikit banyak akan menyelami samudera misteri barzakh, yang ide-idenya digagas dari hadis-hadis Nabi mengenainya. Dimulai dari pemaknaan “konsep barzakh”, keadaan ruh di alam barzakh, pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan malaikat dalam kubur, hingga siksa kubur.
Hadis mengenai Alam Barzakh
Hadis Nabi yang kontennya memperbincangkan barzakh dengan segala rupa dan bagiannya amatlah banyak dan beragam. Diantaranya adalah hadis dari Ibnu Umar r.a. yang menginformasikan pada kita tentang kemana ruh seseorang akan berdiam setelah mati.
Shahih Bukhari no. 1290 (Hadis ini berkualitas hasan)
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ نَافِعٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا مَاتَ عُرِضَ عَلَيْهِ مَقْعَدُهُ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ إِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَمِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَمِنْ أَهْلِ النَّارِ فَيُقَالُ هَذَا مَقْعَدُكَ حَتَّى يَبْعَثَكَ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Ibnu Umar r.a menuturkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya jika salah seorang dari kalian meninggal dunia, akan diperlihatkan kepadanya tempat tinggalnya (di akhirat nanti) pada pagi dan petang hari. Jika termasuk penghuni surga, maka ia akan menghuni surga, dan jika termasuk penghuni neraka, maka ia akan menghuni neraka. Dan dikatakan kepadanya: “Inilah tempat tinggalmu hingga Allah membangkitkanmu di hari kiamat”.Ketika hadis diatas ditakhrij, ditemukan beberapa teks hadis lain yang hampir serupa baik lafazh maupun makna, diantaranya sebagai berikut:
Shahih Bukhari no. 3001 (Hadis ini berkualitas shahih)
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ نَافِعٍ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا مَاتَ أَحَدُكُمْ فَإِنَّهُ يُعْرَضُ عَلَيْهِ مَقْعَدُهُ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ فَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَمِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَمِنْ أَهْلِ النَّارِ
Shahih Bukhari no. 6034 (Hadis ini berkualitas shahih)
حَدَّثَنَا أَبُو النُّعْمَانِ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا مَاتَ أَحَدُكُمْ عُرِضَ عَلَيْهِ مَقْعَدُهُ غُدْوَةً وَعَشِيًّا إِمَّا النَّارُ وَإِمَّا الْجَنَّةُ فَيُقَالُ هَذَا مَقْعَدُكَ حَتَّى تُبْعَثَ إِلَيْهِ
Shahih Muslim no. 5111 (Hadis ini berkualitas shahih)
حَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَالِمٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا مَاتَ الرَّجُلُ عُرِضَ عَلَيْهِ مَقْعَدُهُ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ إِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَالْجَنَّةُ وَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَالنَّارُ قَالَ ثُمَّ يُقَالُ هَذَا مَقْعَدُكَ الَّذِي تُبْعَثُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Musnad Ahmad bin Hambal no. 4983 (Hadis ini berkualitas shahih)
حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا فُضَيْلُ بْنُ غَزْوَانَ عَنْ نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يُعْرَضُ عَلَى ابْنِ آدَمَ مَقْعَدُهُ مِنْ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ غُدْوَةً وَعَشِيَّةً فِي قَبْرِهِ
Penjelasan Hadis
Hadis di atas dengan jelas mengandung informasi akan adanya nikmat dan siksa kubur. Ia mengisyaratkan bahwa nasib seseorang setelah berada di alam sana (alam barzakh maupun alam akhirat) ditentukan semata-mata oleh amal perbuatannya selama ia hidup di dunia. Al-Qur’an dalam Q.S. Ghafir ayat 46 juga mengisyaratkan akan hal ini:
النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آَلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ
Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): "Masukkanlah Fir'aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras." (Q.S. Ghafir :46)Selain itu, dalam hadis lain juga disebutkan mengenai gambaran liang lahat bagi penghuninya:
إنما القبر روضة من رياض الجنة او حفرة من حفر النار
Sesungguhnya kubur itu adalah sebuah taman dari taman surga atau sebuah lubang dari lubang neraka. (Riwayat Tirmidzi dari Abu Sa’id al-Khudri)التوربشتي mengungkapkan, tiap manusia, setelah kematiannya, diperlihatkan takdirnya masing-masing. Maka jika ia termasuk penghuni surga, ia benar-benar akan menghuni surga, begitupun sebaliknya.
Dalam Tuhfah al-Ahwadzi disinggung bahwa faedah dari diperlihatkannya tempat tinggal seseorang, bagi orang-orang yang mu’min lagi taat pada Allah, ialah untuk memberikan kabar gembira bagi ruh-ruh mereka, bahwa mereka telah memperoleh balasan dan kedudukan yang tetap di alam akhirat nanti, yakni di surga.
Apakah “barzakh” itu?
Suatu peristiwa yang tak dapat terelakkan lagi oleh manusia adalah kematian. Setelah menjalani kehidupan di dunia, manusia akan meninggal dan memasuki dunia baru yang sama sekali lain dengan dunia yang semula ditinggalinya. Setelah meninggalkan dunia ini, “hidup” manusia masih terbagi pada beberapa fase atau periode: Periode “Menunggu”, dikenal dengan “alam barzakh”; Periode “Peralihan”, atau “kiamat besar”; Periode “Kebangkitan”, atau “mahsyar”; Periode “Pengadilan”, atau “hisab”; Periode Pembalasan, yakni dimasukkannya manusia ke dalam surga atau neraka, berdasarkan amalan-amalan yang diperbuatnya semasa di dunia.
Barzakh umumnya diartikan sebagai dinding, sekat, maksudnya pemisah antara dua alam yang berbeda. Dikatakan juga bahwa yang dimaksud dengan barzakh ialah masa sejak roh seseorang berpisah dari jasadnya sampai hari kebangkitan, sebagaimana tercantum dalam Q.S. Al-Mu’minun: 100.
حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ (99) لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ
(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: "Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia). (99) Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan dihadapan mereka ada dinding (barzakh) sampai hari mereka dibangkitkan.Para ulama mengartikan alam barzakh sebagai "periode antara kehidupan dunia dan akhirat". Maksudnya, keberadaan di sana memungkinkan seseorang untuk melihat kehidupan dunia dan akhirat. Kehidupan di sana bagaikan berada dalam suatu ruangan terpisah yang terbuat dari kaca. Ke depan penghuninya dapat melihat hari kemudian, sedangkan ke belakang mereka melihat kita yang hidup di pentas bumi ini. Barzakh bersifat sementara, yaitu sampai tibanya hari kebangkitan. Karena, setelah datangnya hari tersebut, akan ada kehidupan lain lagi, yaitu kehidupan tahap terakhir, kehidupan di alam akhirat.
Barzakh adalah kubur, pintu gerbang akhirat, dan ia meliputi seluruh macam pekuburan. Ada yang berkubur di tanah, di dasar laut, di dalam perut ikan, di dalam perut binatang buas bahkan burung, atau jadi abu yang diterbangkan oleh angin.
Dengan kematian, seseorang beranjak untuk memasuki saat pertama dari hari akhir. Dalam sebuah riwayat dinyatakan bahwa: “Siapa yang meninggal, maka kiamatnya telah bangkit.” Maka kiamat ini dinamai "kiamat kecil". Saat itu yang bersangkutan dan semua yang meninggal sebelumnya hidup dalam satu alam yang dinamai dengan alam barzakh. Mereka semua menanti kedatangan kiamat besar, yang ditandai dengan peniupan sangkakala pertama.
Tempat Ruh di Barzakh
Bey Arifin dalam bukunya Hidup Sesudah Mati lebih jauh mengklasifikasi kondisi ruh di alam barzakh ke dalam beberapa tingkatan:
Pertama, ruh para Nabi dan Rasul, yang menempati derajat tertinggi.
Kedua, ruh para syuhada’, yang diumpamakan sebagai burung-burung hijau yang beterbangan dalam surga.
Ketiga, ruh-ruh yang tertahan di pintu surga, karena suatu atau beberapa sebab tertentu.
Keempat, ruh-ruh yang tertahan di kuburnya masing-masing.
Kelima, ruh-ruh yang berkedudukan di pintu surga, dan menerima rizki dari Tuhannya tiap pagi dan petang.
Keenam, ruh-ruh yang tertahan di permukaan bumi, dan ia tidak dapat kembali ke tempat yang lebih tinggi.
Ketujuh, ruh-ruh yang tempatnya berada di lubang yang panas, dalam sungai darah, dan lain-lain, dan ia disiksa secara terus-menerus hingga hari kiamat.
Fitnah Kubur dan Pertanyaan Malaikat
Sunan al-Tirmidzi, hadis no. 991 (Hadis berkualitas hasan)
حَدَّثَنَا أَبُو سَلَمَةَ يَحْيَى بْنُ خَلَفٍ الْبَصْرِيُّ حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ الْمُفَضَّلِ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ إِسْحَقَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قُبِرَ الْمَيِّتُ أَوْ قَالَ أَحَدُكُمْ أَتَاهُ مَلَكَانِ أَسْوَدَانِ أَزْرَقَانِ يُقَالُ لِأَحَدِهِمَا الْمُنْكَرُ وَالْآخَرُ النَّكِيرُ فَيَقُولَانِ مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ فَيَقُولُ مَا كَانَ يَقُولُ هُوَ عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ فَيَقُولَانِ قَدْ كُنَّا نَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُولُ هَذَا ثُمَّ يُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ سَبْعُونَ ذِرَاعًا فِي سَبْعِينَ ثُمَّ يُنَوَّرُ لَهُ فِيهِ ثُمَّ يُقَالُ لَهُ نَمْ فَيَقُولُ أَرْجِعُ إِلَى أَهْلِي فَأُخْبِرُهُمْ فَيَقُولَانِ نَمْ كَنَوْمَةِ الْعَرُوسِ الَّذِي لَا يُوقِظُهُ إِلَّا أَحَبُّ أَهْلِهِ إِلَيْهِ حَتَّى يَبْعَثَهُ اللَّهُ مِنْ مَضْجَعِهِ ذَلِكَ وَإِنْ كَانَ مُنَافِقًا قَالَ سَمِعْتُ النَّاسَ يَقُولُونَ فَقُلْتُ مِثْلَهُ لَا أَدْرِي فَيَقُولَانِ قَدْ كُنَّا نَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُولُ ذَلِكَ فَيُقَالُ لِلْأَرْضِ الْتَئِمِي عَلَيْهِ فَتَلْتَئِمُ عَلَيْهِ فَتَخْتَلِفُ فِيهَا أَضْلَاعُهُ فَلَا يَزَالُ فِيهَا مُعَذَّبًا حَتَّى يَبْعَثَهُ اللَّهُ مِنْ مَضْجَعِهِ ذَلِكَ وَفِي الْبَاب عَنْ عَلِيٍّ وَزَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ وَابْنِ عَبَّاسٍ وَالْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ وَأَبِي أَيُّوبَ وَأَنَسٍ وَجَابِرٍ وَعَائِشَةَ وَأَبِي سَعِيدٍ كُلُّهُمْ رَوَوْا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي عَذَابِ الْقَبْرِ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a.: “Bersabda Nabi SAW: Apabila meninggal seorang hamba maka datanglah dua orang malaikat, salah satunya bernama Munkar, dan yang lainnya bernama Nakir. Kedua malaikat itu bertanya: Apa yang dapat engkau katakan mengenai Muhammad SAW? Apabila yang ditanya adalah orang mu’min, ia akan menjawab: Beliau adalah hamba dan rasul Allah. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, dan Muhammad adalah rasul-Nya. Malaikat tersebut berkata: Sekarang kami telah mengerti akan apa yang engkau katakan. Setelah itu, dilapangkanlah kuburnya seluas tujuh puluh hasta dan diterangi dengan nur. Dikatakan kepadanya: Sekarang tidurlah engkau. Mayat tersebut memohon: Doakanlah agar aku dapat kembali pada keluargaku untuk mengabarkan kesenangan ini. Sang malaikat menjawab: Tidurlah! Maka tidurlah ia laksana tidurnya para pengantin, tak pernah bangun kecuali jika ia ingin menemui keluarganya. Demikian yang berlangsung hingga hari kebangkitan. Adapun orang munafik, jika ia ditanya demikian ia menjawab: Aku tak tahu. Aku hanya mendengar orang lain mengatakan sesuatu tentang dia (Muhammad), lantas aku katakan pula apa yang orang katakan tentangnya itu. Malaikat berkata: Sekarang kami telah mengerti akan apa yang kamu katakan. Setelah itu sang malaikat berujar pada bumi: Jepitlah manusia ini olehmu! Lantas dijepitnya hingga berserakan tulang rusuknya. Dan ia senantiasa diazab, disiksa sampai ia dibangkitkan dari kuburnya nanti di hari akhir.”Dalam riwayat lain dari Abu Qatadah, diceriterakan bahwa: sesungguhnya jika seorang mu’min meninggal, dia akan didudukkan di dalam kuburnya, lalu ditanyakan padanya: Siapa Tuhanmu?” “Allah”, jawabnya. Ditanyakan lagi,” Siapa Nabimu?” “Muhammad ibn ‘Abdillah”, sahutnya. Hal itu ditanyakan padanya sebanyak tiga kali. Kemudian dibukakan baginya pintu menuju neraka dan dikatakan padanya,” Lihatlah ke tempat tinggalmu jikalau saja engkau menyimpang dari kehendak-Nya.” Setelah itu, dibukakan pintu surga dan dikatakan kepadanya,” Lihatlah tempat tinggalmu di surga, karena engkau teguh meyakini-Nya.”
Jika seorang kafir meninggal, dia akan didudukkan di dalam kuburnya, kemudian ditanyakan kepadanya,” Siapakah Tuhanmu? Siapakah Nabimu?” “Aku tidak tahu... Aku memang pernah mendengar orang-orang mengatakan sesuatu,” jawabnya. Lalu dikatakan padanya,” Kamu memang benar-benar tidak tahu!” Setelah itu, dibukakan pintu surga dan dikatakan, ”Lihat ke tempat tinggalmu itu seandainya kamu benar-benar teguh beriman.” Lalu dibukakan baginya pintu neraka dan dikatakan, ”Lihat ke tempatmu karena kamu menyimpang”. (Diriwayatkan oleh Ibn Abi Hatim, Al-Thabrani dan Ibn Mundah)
Dalam riwayat lain yang sedikit berbeda, yakni yang diungkapkan oleh Al-‘Ajiri dalam Al-Syari’ah, diriwayatkan dari Ibn Mas’ud: Jika seorang hamba telah meninggal dan diletakkan dalam kubur, Allah mengutus kepadanya dua malaikat untuk menghardik dan bertanya, “Siapa Tuhanmu?” “Allah Tuhanku”, jawabnya. “Apa agamamu?” tanyanya lagi. Jawabnya, “Islam agamaku”. “Lalu, siapa Nabimu?”. Dia menjawab,” Muhammad Nabiku”. Kemudian keduanya mengatakan, “Engkau benar. Berikanlah kepadanya tempat tidur dari surga, pakaian dari surga, dan perlihatkan tempatnya di surga.”
Adapun jika orang kafir yang meninggal, ia akan dipukul dengan pukulan yang bisa membuat kuburannya menyala. Malaikat juga menyempitkan kuburnya hingga tulang rusuknya tercerai-berai dan berserakan, dan dibangkitkan untuknya ular-ular kuburan.
Dari tiga cuplikan hadis di atas mengenai pertanyaan malaikat pada si mayit di dalam kuburnya, kita sadari bahwa “proses” tanya-jawab antara manusia dengan malaikat tidaklah sama satu dengan lainnya. Tiap-tiap riwayat menampakkan perbedaan dalam menyebutkan cara pengajuan pertanyaan dan pemberian jawaban, meskimemang tidak terlalu berbeda jauh. Selain itu, dalam riwayat lain (tidak saya sebutkan dalam makalah ini) dikisahkan bahwa hanya ada satu sosok malaikat yang menanyai si mayit. Hal ini bukan berarti hadis-hadis tersebut saling bertentangan, akan tetapi karena perbedaan “perlakuan” pada tiap-tiap orang saja. Kemungkinan, orang yang didatangi oleh satu malaikat atau hanya diberikan pertanyaan yang lebih ringan dan sedikit, merupakan suatu keringanan baginya, karena amal shalih yang dikerjakannya. Atau, kemunhgkinan kedua, bisa saja salah satu dari riwayat tersebut merupakan ringkasan dari riwayat lainnya, sehingga tidak mencantumkan keseluruhan kisah. Akan tetapi, memang masuk di akal jikalau Allah memberikan perlakuan yang berbeda-beda pada setiap orang, karena semua tergantung amalan-amalan yang telah diperbuatnya di dunia dahulu.
Fenomena Siksa Kubur: Nyatakah?
حَدَّثَنَا عَيَّاشٌ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْأَعْلَى حَدَّثَنَا سَعِيدٌ قَالَ وَقَالَ لِي خَلِيفَةُ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ حَدَّثَنَا سَعِيدٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْعَبْدُ إِذَا وُضِعَ فِي قَبْرِهِ وَتُوُلِّيَ وَذَهَبَ أَصْحَابُهُ حَتَّى إِنَّهُ لَيَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالِهِمْ أَتَاهُ مَلَكَانِ فَأَقْعَدَاهُ فَيَقُولَانِ لَهُ مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَقُولُ أَشْهَدُ أَنَّهُ عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ فَيُقَالُ انْظُرْ إِلَى مَقْعَدِكَ مِنْ النَّارِ أَبْدَلَكَ اللَّهُ بِهِ مَقْعَدًا مِنْ الْجَنَّةِ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَرَاهُمَا جَمِيعًا وَأَمَّا الْكَافِرُ أَوْ الْمُنَافِقُ فَيَقُولُ لَا أَدْرِي كُنْتُ أَقُولُ مَا يَقُولُ النَّاسُ فَيُقَالُ لَا دَرَيْتَ وَلَا تَلَيْتَ ثُمَّ يُضْرَبُ بِمِطْرَقَةٍ مِنْ حَدِيدٍ ضَرْبَةً بَيْنَ أُذُنَيْهِ فَيَصِيحُ صَيْحَةً يَسْمَعُهَا مَنْ يَلِيهِ إِلَّا الثَّقَلَيْنِ
Diriwayatkan dari Anas r.a.: “Bersabda Nabi SAW: Apabila manusia telah dibaringkan dalam kuburnya, dan sahabat (yang mengantarkan) telah pulang, sampai ia mendengar derap sepatu mereka, maka datanglah dua orang malaikat menemuinya. Kedua malaikat itu mendudukkannya, lalu bertanya kepadanya: Apa yang dapat engkau katakan mengenai Muhammad SAW? maka adapun orang mu’min akan menjawab: Saya bersaksi bahwa Beliau adalah hamba dan rasul Allah. Maka dikatakanlah kepadanya: Lihatlah tempat tinggalmu dari neraka, sesungguhnya Allah telah menggantinya untukmu dengan surga. Maka ia diperlihatkan pada keduanya. Setelah itu, dilapangkanlah kuburnya seluas tujuh puluh hasta dan penuh berisi tanaman segar sampai hari ia dibangkitkan. Adapun orang munafik, jika ia ditanya demikian ia menjawab: Aku sama sekali tak tahu. Aku hanya mengatakan sesuatu yang diucapkan orang mengenai dirinya. Malaikat berkata: Engkau tidak tahu! Engkau tidak membaca! Kemudian dipukulkanlah martil yang rebuat dari besi dengan pukulan yang menimpa antara kedua telinganya. Ia pun berteriak dengan teriakan yang didengar oleh orang yang mengiringinya tanpa membebaninya, dan disempitkan kuburnya sampai beradu tulang-tulang rusuknya.”Mengenai latar belakang munculnya hadis di atas, dikisahkan dalam Sunan Abu Daud bahwa Rasulullah SAW suatu ketika pernah memasuki kebun kurma kepunyaan Bani Najar. Tiba-tiba beliau mendengar suara yang mengagetkan, sehingga beliau bertanya pada orang-orang yang mengiringinya, “Siapa saja orang yang dikubur disini?” mereka menjawab,”Wahai Rasulullah, mereka adalah orang-orang yang dikubur pada masa jahiliyah.” Beliau bersabda: Kita memohon perlindungan Allah dari siksa kubur dan dari fitnah dajjal.” Mereka bertanya,”Mengapa demikian Ya Rasulullah?” Beliau menjawab seperti bunyi hadis yang menerangkan adanya siksa dan nikmat kubur di atas.
Meski kita tidak dapat mengetahui kejadian di alam kubur, telah jelas dipaparkan dalam hadis di atas, bahwa setelah manusia meninggal dan disemayamkan dalam kubur, ia akan didatangi oleh malaikat yang akan mengajukan beberapa pertanyaan. Jikalau ia mu’min lagi shalih, niscaya ia akan mudah menjawab dan memperoleh kebahagiaan dan kenikmatan di alam kubur kelak. Sebaliknya, jika ia kafir atau zalim, maka ia akan kesulitan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, dan kelak akan menerima siksa yang teramat pedih.
Perlu dicatat, hadis terkait siksa kubur di atas, rawi-rawi yang meriwayatkannya, meski tidak mencapai tingkatan shahih, mereka masih patut menyandang predikat hasan. Kemuttashilannya pada Rasulullah SAW juga tidak perlu dipertanyakan lagi. Maka, “siksa kubur” merupakan suatu fenomena yang memiliki landasan yang kuat dari hadis Nabi. Meski begitu, masih terdapat orang-orang dari kelompok Materialisme (Naturalisme) juga Mu’tazilah yang menilai hadis tersebut musykil dari sisi logika serta nalar manusia. Menurut mereka, orang yang telah mati tak ubahnya seperti bangkai lain, tenang, tak bergerak, serta tidak memiliki rasa dan perasaan. Lalu bagaimana mungkin sesuatu yang seperti itu dapat menerima atau bahkan merasakan siksaan? Bagaimana mungkin ia dan bertanya-jawab atau duduk bersama malaikat? Mengapa agama Islam, sebagai agama akal, dapat bertentangan dengan akal, dunia nyata, dan intuisi?
Dalam diskursus pemikiran kelompok Naturalis, kematian dipandang sebagai proses perjalanan akhir dari kehidupan. Dengan menggunakan rasio dan indera manusia sebagai tolok ukurnya, kematian merupakan wujud dari yang tak berwujud (being of nothingness) , artinya wujud mati merupakan hakikat yang sebenarnya dari ketidakwujudan atau ketiadaan. Karenanya, “mati” bersifat tidak eksis, hampa, kosong, dan semacamnya, sedang “hidup” bersifat eksis, ada, dan dapat dirasakan. Eksistensi manusia dan dirasakan karena adanya jiwa dan raga dalam diri manusia yang memiliki potensi “merasakan” kehidupan. Hal ini tak dapat dijumpai jika jiwa dan raga manusia yang sebenarnya sudah tidak ada karena ia sudah mati, tak eksis. Maka, bertolak dari pemikiran semacam ini, kelompok Naturalis menolak paham “hidup setelah mati”, karena proses peralihan dari “ada” menuju “tidak ada”, dari “eksis” menuju “non-eksis”.
Mencoba menanggapi hal di atas, sebenarnya matinya manusia tidak menjadi penghalang baginya untuk mendapatkan siksa, kenikmatan, kesengsaraan ataupun kebahagiaan. Meski hal tersebut tidak dapat disaksikan oleh indera dan tidak dapat diterima oleh nalar manusia, bukan lantas menjadikan hal tersebut sesuatu yang tidak ada. Sebagai contoh, ruh. Jika manusia tidak dapat melihat ruh, bukan berarti ia tidak ada dalam kenyataan. Maka, jika manusia tidak dapat melihat siksa ataupun nikmat kubur, bukan berarti itu tidak ada. Atau, kita dapat membayangkan bahwa orang yang mati layaknya orang yang sedang tidur, yang dalam tidurnya ia dapat mengalami berbagai macam hal, sebagaimana orang yang sadar. Jika kita lihat, orang yang sedang tidur itu terlihat tenang, tak bergerak, tak terusik, tak melakukan apapun, tetap membujur kaku. Maka orang matipun dapat kita analogikan seperti itu. Di alam barzakh, ia akan mengalami hal yang seperti itu, maksudnya meski jasadnya tak tergerak, ruhnya masih tetap dapat merasakan nikmat, siksaan, bahagia, sengsara, maupun kejadian lainnya.
Kalangan Ahlussunnah memiliki pandangan sendiri. Menurut mereka, siksa kubur dilakukan terhadap jasad itu sendiri setelah ruhnya dikembalikan lagi oleh Allah ke jasadnya, dengan kemahakuasaan-Nya, sekalipun jenazahnya sudah hangus atau habis dimakan oleh ulat dan cacing.
Lain halnya dengan argumen yang digunakan Bediuzzaman Said Nursi untuk menanggapi pandangan kaum Naturalis tersebut. Sederhananya, ia berpendapat bahwa kematian adalah peralihan dari eksistensi dunia hidup (‘alam al-dunya) menuju eksistensi dunia lain (‘alam al-barzakh), yang keduanya diciptakan Allah. Karena dunia tersebut (barzakh) merupakan sesuatu yang eksis, ada, maka eksistensi kematianpun akan terus berlanjut menuju proses perjalanan akhir kehidupan, yakni akhirat, melalui hari kebangkitan (kiamat).
Kesimpulan dan Penutup
Dari pembahasan singkat di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa barzakh dengan segala siksaan dan nikmatnya, memang ada dan ia bukanlah hal yang mustahil bagi nalar manusia. Ruh dalam barzakh pun memiliki tingkatan yang berbeda-beda, semuanya sesuai dengan apa yang telah ia perbuat di dunia.
Tidak seharusnya kita terlalu berlebihan dalam mencermati dan memikrkannya, atau menyibukkan diri untuk mencari pembuktiannya dan benar-benar memahami seluk beluknya. Hemat pemakalah, hal yang perlu kita tanamkan pertama kali dalam kalbu kita adalah keimanan terhadap hal-hal yang berbau mistis seperti di atas. Kita mesti menanamkan dalam-dalam di hati kita bahwa misteri alam kubur beserta siksaan dan nikmatnya, demikian pula dengan akhirat dan segala hal ihwalnya, merupakan bukti kebenaran agama Islam. Yang pemakalah maksudkan adalah, bahwa akhir dari kehidupan seorang manusia, yakni kematian, juga serangkaian proses yang mengiringi manusia menuju pada kehidupan abadi, seperti hari kiamat, padang mahsyar, penghisaban amal perbuatan, hingga pada konsep surga-neraka, adalah salah satu bukti atau isyarat akan kemahakuasaan Allah, Sang Pencipta dan Sang Maha Berkehendak. Dan alangkah bodoh dan dungunya jika kita, alih-alih mempersiapkan diri sebaik mungkin guna mencapai “masa depan cerah” yang telah Allah janjikan, malah menyibukkan diri untuk terus membahas persoalan tersebut. Maka hendaknya kita menyibukkan dan menenggelamkan diri kita dalam ibadah kepada, dan tidak sekali-kali melalaikan kewajiban kita sebagai hamba. Dengan demikian, semoga kita dihindarkan Allah dari azab kubur yang pedihnya jauh melampaui imaginasi manusia.
Akhirnya, mungkin hanya ini yang dapat pemakalah sajikan. Amat berlebihan kiranya jika makalah ini dikatakan sempurna, karena pasti masih banyak ditemukan kekeliruan-kekeliruan di sana-sini, yang disebabkan oleh keterbatasan pemakalah semata. Maka, dengan segala kerendahan hati, pemakalah mohonkan kritik maupun koreksi atas makalah ini, dengan harapan kesemuanya itu dapat menelurkan karya yang jauh lebih baik dari makalah ini. Dan semoga sedikit ilmu yang dituangkan dalam makalah ini dapat memberikan sumbangsih dan kontribusi yang berarti bagi peningkatan pengetahuan dan ketaatan kita kepada Ilahi Rabbi. Amin.

Comments
Post a Comment