Turki Lindungi China, Kemana Kiblat Pengusung Khilafah?


Turki adalah negara yang paling diidamkan oleh para pembela khilafah. Negara yang terletak di benua Asia dan Eropa tersebut dianggap paling cocok menjadi contoh negara khilafah. Namun berbagai perubahan kebijakan politik Turki menjadikan pendukung khilafah tersebut menjadi bingung. Pasalnya, Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu pada Kamis (3/8/2017), mengatakan akan melawan semua unsur dan media yang anti terhadap pemerintahan China.

Hubungan yang membaik antara Turki dan China disebabkan kemauan pihak Beijing yang agak membaik terhadap etnis Uighur. Sebagaimana diketahui, Uighur adalah etnis yang beragama Islam dan menggunakan bahasa Turki dalam keseharian mereka. Mereka juga memiliki kedekatan budaya dengan Turki. Perubahan hubungan politik ini mengingatkan akan bahayanya mengatasnamakan agama dalam berbagai aksi dan gagasan. Memang aspek agama adalah hal terpenting dalam Islam, namun harus berakal juga dalam memahami agama. La dina li man la 'aqla lah. Beragama harus cerdas melihat bagaimana peta politik, ekonomi, budaya, sosial dan pengetahuan agar tidak mudah dibohongi ideologi yang tidak jelas.

Kiblat pengusung khilafah, yang sering memuji Presiden Turki, Recep Tayip Erdogan, ternyata tidak seislami yang mereka bayangkan. Ternyata pemerintahan Erdogan sangat mesra dengan China, sampai-sampai membela isu negatif tentang China di negaranya sendiri. Padahal China adalah negara komunis, sebuah ideologi yang diisukan orang yang tidak suka dengan pemerintahan Jokowi al-Indunisi. Jika Turki saja bekerjasama dan membela China, kenapa Jokowi dikritik ketika mendekati China? Apakah karena Jokowi kurang Islami? Atau karena Erdogan adalah khalifah Islam sehingga tidak dipermasalahkan jika bekerjasama dengan negara komunis?

Comments