![]() |
| Rayah di sebelah kiri dan Liwa' di sebelah kanan. |
Liwa' dan rayah ini, jika melihat dari tulisannya, jelas tidak berasal dari Rasulullah SAW. Tulisan khat tsulutsi yang bertumpuk dan penuh dengan hiasan itu adalah hasil inovasi para khaththath (kaligrafer) pada masa dinasti 'Abbasiyyah dan setelahnya. Misalnya ABu al-Hasan 'Ali bin Hilal Ibn al-Bawwab (w. 413/1022), kaligrafer yang Bahkan tulisan tsulutsi dalam bentuknya yang sudah canggih itu mungkin berasal dari masa yang lebih belakangan. Oleh karena itu, jelas bahwa liwa' dan rayah yang mereka gunakan adalah simbol yang direkayasa, dibentuk sedemikian rupa agar orang-orang mau mengikuti mereka yang menggunakannya.
(Baca: Intoleran dengan Masyarakat, MTA, HTI dan Sejenisnya Sering Picu Konflik)
Dalam hal ini, ada dua kesalahan penggunaan liwa' dan rayah ini dalam kehidupan umat Islam. Pertama, menurut sejarah seni penulisan, jelas bahwa liwa' dan rayah bukanlah berasal dari Rasulullah SAW. Kedua, penggunaan simbol ini adalah hanya dalam peperangan, yang digunakan untuk posisi defensif umat Islam zaman dulu menurut mereka. Maka penggunaan liwa' danr rayah dalam berbagai atribut organisasi dan aksi adalah ajakan untuk berperang, bukan untuk damai dan rukun menurut sunnah Rasulullah SAW.
(Baca: Kurangnya Literasi Kelompok Islam Baru)
Dengan menggunakan kalimat syahadat dalam liwa' dan rayah yang sedemikian rupa direkayasa, mereka menggunakannya untuk meraih tujuan kelompok mereka saja. Mereka mengatakan bahwa itu adalah panji Rasulullah yang bertuliskan syahadat, bila tidak mau ikut, maka tidak mau mengikuti syahadat. Padahal beragama menurut sunnah Rasulullah SAW adalah bukan mengikuti simbol, apalagi dengan kamuflase di dalamnya untuk meraih kepentingan kelompok. Bersyahadat tidak dilukiskan dalam satu tulisan dan simbol, melainkan syahadat yang benar adalah membawa rahmat bagi sekalian alam. Apalagi hadis tentang liwa' dan rayah adalah hadis yang lemah, yang jelas tidak boleh digunakan dalam beragama yang benar

Comments
Post a Comment