Kaum Salafi yang Tak Punya Nilai Estetika dan Seni

Masjid Agung Umayyah di Suriah

Ulama salaf memiliki berbagai metode dan tradisi yang unik. Diantaranya adalah metode saling menghargai pendapat dan tidak menyerang secara membabi buta. Mereka mempunyai ijtihad yang terkadang berubah dari waktu ke waktu, dari satu tempat ke tempat yang lain sebagaimana Imam al-Syafi'i. Dalam masalah tradisi, imam madzhab empat dan juga ulama salaf lainnya sangat menghargainya. Misalnya tradisi di Madinah yang dihargai oleh Imam Malik, tradisi di Kufah oleh Imam Abu Hanifah, tradisi di Baghad dan Kairo oleh Imam al-Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal.
Mereka juga mempunyai seni yang tinggi, dengan berbagai fashahatul kalam di dalam kitabnya, gubahan syair sebagaimana Diwan al-Syafi'i, korespondensi dengan ulama yang lain dan lainnya. Jiwa seni ini dipengaruhi oleh tradisi yang ada di sekitarnya. Semakin tinggi kebudayaan dan pengetahuan suatu tempat di mana ulama tinggal, maka nilai seninya juga akan semakin tinggi. Oleh karena itu, ulama salaf sebelum Ibn Taimiyyah yang hidup dalam masa keemasan Islam, menikmati indahnya kehidupan. Mereka menghargai seni dan juga tradisi yang sangat beragam sebagaimana disebutkan dalam beberapa kitab tarajim dan geografi.

(Baca: Memanah dan Berkuda, Sunnah yang Merusak Permainan Tradisional)

Para umara' di masa mereka pun mempunyai estetika bangunan dan infrastruktur. Berbagai kemegahan masjid dan taman pada masa dinasti Umayyah di Damaskus, dinasti Abbasiyyah di Baghdad, Umayyah Spanyol, Utsmaniyyah di Istanbul, dan kemudian diikuti Samudra Pasai di Aceh, Mataram Islam di Demak dan lainnya sangat indah. Tempat-tempat bersejarah di sekitarnya pun tidak dihancurkan atas nama memerangi bid'ah dan kemusyrikan. Misalnya Sphinx, Piramida, Borobudur, Babylonia, Hagia Sophia dan gereja-gereja di Spanyol dibiarkan sedemikian rupa. Bahkan terkadang para ulama mengambil sebagian bentuk ibadah agama lain untuk mempercantik bangunan masjid seperti menara Persia di masjid-masjid semenanjung Arabia, kuil Hindu di Kudus, bentuk gereja untuk beberapa masjid di Spanyol dan lainnya.

(Baca: Ustadz Sunnah yang Tidak Mengikuti Sunnah)

Akhir-akhir ini muncul kaum yang mengaku pengikut salaf, dan menyebut dirinya sebagai salafi, tidak punya tradisi, seni maupun estetika. Bahkan, tradisi dihancurkan untuk memurnikan ajaran Islam. Jelas sekali mereka hanya berpikir jubah, surban, celana cingkrang, jenggot, jidat hitam dan lainnya yang tidak mempunyai nilai seni dan estetis sama sekali. Padahal dalam hadis Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya Allah Maha Indah dan menyukai hal-hal yang indah."

Comments