Khilafah, Sistem Pemerintahan Terburuk dalam Islam

Banyak pengusung khilafah yang tidak faham bagaimana sejarah khilafah itu sendiri. Di dalam Islam, khilafah pertama kali adalah dinasti Umayyah, yang berhasil menaklukkan al-Hasan dan al-Husain, dua cucu Rasulullah SAW. Di dalam sejarahnya, banyak umat Islam yang terbunuh, baik karena membela dua anak Ali bin Abi Thalib atau membela Mu'awiyah bin Abi Sufyan. Kemudian setelah khalifah ini melemah, klan dari 'Abbasiyyah ingin merebut posisi khilafah ini. Sebagaimana berdirinya dinasti Umayyah, dinasti 'Abbasiyyah berdiri di atas pertumpahan darah sesama umat Islam. Abu al-'Abbas al-Saffah, pendiri dinasti 'Abbasiyyah, tidak segan-segan membunuh dan memburu dinasti Umayyah yang tersisa. Tidak hanya itu, makam para khalifah dinasti Umayyah juga tidak luput dari kekejamannya. Makam tersebut dibongkar, kemudian dirusak dan dibakar jasad yang ada di dalamnya.

Keturunan dinasti Umayyah yang tersisa saat itu, 'Abdurrahman, lari ke semenanjung Iberia dan melawan para amir di sana. Para amir tersebut kemudian ditaklukkan dan ia membuat keamiran sendiri atas nama dinasti Umayyah di Al-Andalus. Setelah dinasti ini melemah, beberapa pertikaian kembali terjadi. Persaingan antara kerajaan kecil-kecil (muluk al-thawa'if), dinasti al-Murabithun, dinasti al-Muwahhidun silih berganti dan memakan banyak korban. Di Mesir sendiri, dinasti Fathimiyyah yang bermazhab Syi'ah juga diperjuangkan atas lumuran darah orang Islam sendiri.

Namun dalam demokrasi, adakah pertumpahan darah yang lebih banyak daripada sejarah dinasti atau khilafah dalam Islam? Apakah tiap pergantian demokrasi harus menelan korban dari pihak Muslim? Mengapa di Indonesia, yang tidak atas nama khilafah, umat Islam dan non-Muslim dapat hidup berdampingan dan harmonis? Mengapa para pejuang khilafah, yang hidup di negeri thaghut dan mendapatkan akses fasilitas negara, masih anti pemerintah?

Comments