Mari Meraih Khilafah dengan Publikasi Ilmiah

Logo SCImago Journal Rank (SJR)

Khilafah yang diusung oleh kaum radikal dan anti pemerintah sudah dibubarkan. Namun ada perlunya ajakan khilafah itu didefinisikan ulang, yaitu dengan menjadi pemimpin (khalifah) dalam publikasi ilmiah. Dalam teori sosial disebutkan bahwa ada relasi antara pengetahuan dengan kekuasaan dan juga sebaliknya. Untuk meraih kekuasaan, maka diperlukan pengetahuan, terutama yang ilmiah sebagai standar utama yang digunakan. Kenapa? Karena kekuasaan di dunia ini yang paling kuat adalah yang mempunyai banyak pengetahuan, yang dibuktikan dengan publikasi ilmiah, bukan diniyyah. Kenapa tidak diniyyah? Karena kalau publikasi diniyyah semua orang bisa copy paste, bisa mengarang cerita yang aneh-aneh, bisa berdusta asalkan untuk kebaikan, bisa ngikut ustadz media sosial, bisa sambil marah-marah dan menyalahkan, bisa sambil mengusir dan merebut masjid orang dan lainnya.

Dikutip dari Scimago Journal & Country Rank, pemeringkat jurnal dunia, penguasa publikasi ilmiah pada 1996-2016 adalah Amerika Serikat. Jika menganut pada relasi kekuasaan dan pengetahuan, maka pengusung khilafah sebaiknya koar-koar anti pemerintah di Amerika Serikat. Alasannya, jika bisa merebut Amerika Serikat, maka tidak usah menguasai publikasi ilmiah karena otomatis masuk di dalamnya. Maka jika sudah direbut, propaganda khilafah dapat berjalan mulus melalui jurnal ilmiah yang jumlah publikasinya nomor wahid di dunia, yaitu 10.193.964 dokumen  dengan kutipan sebanyak 24.0363.880. Nah dengan data sebanyak itu, maka otomatis khilafah bisa menjadi kebenaran ilmiah, tunggal dan harus diikuti oleh semua negara thaghut.

Kalau negara Islam, paling tinggi adalah Turki, namun dengan urutan 20 dan jumlah publikasi 485.366 dokumen dan kutipannya 4.414.662. Masih lumayan untuk tujuan khilafah. Namun perlu diingat, Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan sedang mesra-mesranya dengan negara komunis. Ia pun janji akan menghancurkan siapa saja yang melawan negara China. Paling pengusung khilafah sudah duluan tidak mau karena alergi dengan komunis. Kalau Indonesia, sangat tidak disarankan. Negara kepulauan ini masuk rangking 55 dengan jumlah publikasi 54.146 dokumen dan jumlah kutipannya 380.569. Maka untuk sekarang, jangan lagi membahas khilafah di negara Indonesia, tapi di Amerika Serikat saja. Hasilnya lebih banyak, lebih banyak, menggiurkan dan sangat menjanjikan. Mari jihad ke sana mulai sekarang juga.

Comments