Hermeneutika dekonstruksionis adalah pemahaman yang didapatkan melalui upaya membangun relasi sederhana antara pananda dan petanda, dengan asumsi bahwa, bahasa dan sistem simbol lainnya merupakan sesuatu yang tidak stabil. Makna tulisan akan selalu mengalami perubahan, tergantung pada konteks dan pembacanya. “meaning is contextualized to the relationship between the text and its reader” (Raharjo, 64).
Tokoh dari teori ini adalah Jacques Derrida (1930-20..) seorang filosof post-strukturalisme kelahiran Aljazair. Derrida bisa dimasukkan ke dalam kelompok penulis hermeneutika sejauh ia berhubungan dengan bahasa dan makna. Ia banyak dipengaruhi aliran filsafat fenomenologi dan strukturalisme (Sumaryono, 116 – 118).
Dalam filsafat bahasa, Derrida membedakan antara “tanda” dan “simbol”. Dan dalam kaitannya dengan teks, ia memberikan analisis yang cukup cermat. Menurutnya, objek timbul dalam jaringan tanda, dan jaringan atau rajutan tanda ini disebut “teks”. Tidak ada sesuatu diluar teks, sebab segala sesuatu yang ada selalu ditandai dengan tekstualitas.
Metode Derrida mengenai interpretasi terdapat dalam karyanya, La Dissemination. Ia menyebutkan bahwa sebuah teks tidak akan merupakan teks jika dalam pandangan sekilas tidak menyembunyikan hukum-hukum komposisinya dan aturan-aturan permainannya. Teks tersebut harus selalu kelihatan seakan-akan sulit dimengerti. Dari ungkapan tersebut, interpretasi pada dasarnya adalah teori membaca yang pada akhirnya juga merupakan teori tentang teks. Pemahaman seseorang tergantung pada bagaimana ia membaca teks. Atas dasar ini, maka teori membaca juga akan tergantung pada pemahaman (Sumaryono, 133).

Comments
Post a Comment