Penjelasan Hermeneutika Dialektis


Hermeneutika dialektis adalah interpretasi dimana pemahaman adalah sesuatu yang muncul dan sudah ada mendahului kognisi. Menurut hermeneutika ini, untuk memahami teks, tidak hanya dengan melacak makna yang letakkan oleh pengarang dalam teks, namun juga harus dikaitkan antara keberadaan kita dengan sesuatu yang ditunjukkan oleh teks tersebut. Makna bukan sesuatu yang tunggal, namun yang ada adalah keragaman makna dan dinamika eksistensial. Dengan demikian, pembacaan dan penafsiran akan selalu merupakan pembacaan ulang dan penafsiran ulang, sehingga pembacaan satu teks secara baru akan mendatangkan pemahaman dengan makna yang baru pula (Raharjo, 65).

Tokoh teori ini adalah Martin Heidegger (1889-1976), salah satu murid Husserl yang sejak awal tertarik dengan filsafat, khususnya fenomenologi Husserl. Namun kendati demikian, ia adalah filosof yang dengan keras menentang hermeneutika fenomenologi Husserl, yang mengharuskan netralitas penafsir. Heidegger mengkonfrontasikan hermeneutika faktisitas dengan fenomenologi Husserl sekaligus pembedaan antara fakta dan esensi dimana ia tergantung dengan sebuah tuntutan paradoksial. Menurutnya, tidak ada pemahaman dan penafsiran di mana totalitas struktur eksistensial ini tidak berfungsi. Bahkan jika maksud dari yang tahu hanya membaca apa yang ada di sana dan untuk menemukan dari sumber-sumbernya “bagaimana ia sebenarnya” (Gadamer, 301, 310).

Menurut Heidegger, pemahaman harus didahului dengan prasangka-prasangka akan objek. Gadamer menyebutkan bahwa sebenarnya prasangka berarti sebuah pertimbangan yang diberikan sebelum semua unsur yang menentukan sebuah situasi akhirnya diuji. Dalam terminologi hukum Jerman, sebuah prasangka adalah dalil hukum ketika dalil terakhir belum tercapai (Gadamer, 327).

Comments