Hermeneutika metodis adalah cara memahami ekspresi kehidupan yang tersusun dalam bentuk tulisan. Sebagaimana hermeneutika romantis, hermeneutika metodis juga menekankan pada sisi psikologis pengarang untuk memahami suatu pernyataan. Namun perbedaannya, hermeneutika metodis lebih menekankan pada sisi sejarah (history) pengarang (Raharjo, 62).
Hermeneutika metodis berawal dari kritik tajam terhadap teori Schleiermacher dalam hermeneutika romantisnya yang menyatakan bahwa manusia adalah makhluk bahasa. Kritik ini dilontarkan oleh Wilhem Dilthey (1833-1911) seorang filsuf historis dari Jerman. Ia lahir di Biebrich, Wiesbaden, Konfederasi Jerman, 19 November 1833 dan meninggal di Seis am Schlern, Austria-Hongaria, 1 Oktober 1911 pada usia 77 tahun. Ia adalah seorang sejarawan, psikolog, sosiolog, siswa hermeneutika, dan filsuf Jerman. Dilthey sangat tertarik terhadap Schleiermacher dan mengagumi seluruh kehidupan intelektualnya, terutama dalam penggabungan teologi dan kesusastraan dengan karya filsafat dan karya terjemahan serta interpretasinya atas dialog Plato (Sumaryono, 45 – 46).
Menurut Dilthey, filsafat bersifat esensial historis. Peristiwa-peristiwa sejarah telah menunjukkan bahwa psyche (jiwa) manusia berubah dalam alur waktu dengan cara yang tidak kelihatan. Manusia tidak pernah statis, sehingga semua ilmu pengetahuan tentang manusia juga tidak pernah statis. Ia membedakan antara Naturwissenschaften dan Geisteswissenschaften. Naturwissenschaften adalah semua ilmu pengetahuan tentang alam fisik seperti biologi, kimia, fisika dan semua jenis sains yang menggunakan metode ilmiah induksi dan eksperimen. Adapun Geisteswissenschaften adalah semua ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan kehidupan batin manusia seperti sejarah, psikologi, filsafat, ilmu-ilmu sosial, seni, agama, kesusastraan, dan yang lainnya (Sumaryono, 50).
Untuk memahami orang lain dan ungkapan-ungkapan hidupnya, maka pemahaman terhadap diri sendiri adalah mutlak. Pemahaman tentang Geisteswissenschaften tergantung pada pengalaman-pengalaman batin kita yang tidak dapat dijangkau oleh metode ilmiah. Dengan ini, Dilthey membedakan antara erfahrung (pengalaman pada umumnya) dan erlebnis (pengalaman yang hidup atau lived experience). Pembedaan ini dimaksudkan untuk membedakan antara pengalaman-pengalaman biasa dari seseorang dengan pengalaman-pengalaman yang termasuk dalam Geisteswissenschaften yang memerlukan metodologi khusus untuk memahaminya (Sumaryono, 51 – 52).
Dengan demikian, maka Geisteswissenschaften tidak diturunkan dari prinsip a priori, melainkan dari erlebnis dan diringkas dalam konsep sistem dinamis atau Wirkungszusammenhang yang terutama berhubungan dengan makna. Setiap entitas sejarah adalah keseluruhan yang dinamis dan bersama-sama membentuk satu sistem dinamis yang komprehensif. Makna sejarah dapat kita temukan dalam sistem hubungan dinamis yang saling tumpang-tindih dalam proses sejarah, dan oleh karenanya semua peristiwa sejarah harus diinterprerasi ulang dalam setiap generasi (Sumaryono, 65).

Comments
Post a Comment