Saracen adalah sebutan bagi kelompok yang bertugas untuk menyebarkan dan membuat isu-isu yang berdasarkan suku, agama dan ras serta orang-orang tertentu untuk digunakan tujuan tertentu. Dalam beberapa hal, isu ini kemudian digoreng sedemikian rupa untuk menggiring opini masyarakat agar cenderung pada hal-hal tertentu. Misalnya adalah penggiringan opini kepada calon tertentu dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada), pemilihan presiden (Pilpres) dan lainnya.
(Baca: Neo-Musailamah dan Dajjal di Indonesia)
Ditangkapnya Saracen beberapa waktu lalu menjadikan isu-isu SARA dan hoax di media sosial dianggap berkurang. Namun isu dan hoax tersebut sudah berjalan secara sistemik karena penggiringan opini sebelumnya yang dianggap berhasil. Misalnya pada pemilihan presiden tahun 2014, Pilkada DKI Jakarta 2017 dan lainnya. Nampaknya keberhasilan Saracen dalam menggoreng isu SARA dan hoax akan digunakan dalam Pilkada 2018 dan Pilpres 2019.
Namun keberhasilan para pengurus Saracen ini harus berujung pada kepahitan. Pasalnya, setelah mereka terciduk oleh polisi pada Agustus dan September tahun ini, banyak dari para pemesan isu dan hoax kemudian mengingkari keberadaan mereka. Alih-alih menyediakan posisi strategis untuk para pengurus Saracen ini, mereka malah disalahkan dan tidak dianggap sebagai bagian dari para pemesan yang telah berhasil meraih tujuan politisnya. Kasus Sri Rahayu Ningsih, Asma Dewi, Dodik Ikhwanto dan lainnya harus dibinasakan oleh para pemesan Saracen, yang sebelumnya dielu-elukan dan diberi fasilitas yang dibutuhkan. Habis menang, Saracen ditangkap dan dibui. Para pemesan harus bersih-bersih nama baik dan cuci diri.

Comments
Post a Comment