Judul buku :
Tafsir al-Azhar
Penulis : Prof. Dr. HAMKA
Volume :
10 Jilid
Penerbit :
Pustaka Nasional PTE LTD, Singapura, Cetakan VII, 2007
Seperti
halnya ungkapan–ungkapan yang telah di sampaikan oleh ulama – ulama
mutaqaddimin, bahwasanya syarat yang
harus dimilki oleh seorang mufassir ( menafsirkan ayat–ayat Tuhan ) sangatlah
berat, yaitu dengan mengetahui tata bahasa arab semisal s}arf, nah}w, mantiq, balagah dan
lainnya., mengetahui penafsiran ulama–ulama terdahulu, asba>b al-nuzu>l, na>sikh–mansu>kh, mut}laq–muqayyad, ‘a<mm–kha>s}, dan lain sebagainya. Serta mengetahui
ilmu Hadis, teruatama yang berkaitan dengan ayat yang sedang ditafsirkan, dan
asih banyak lagi syarat yang harus di penuhi oleh seorang penafsir ayat – ayat
tuhan ( al- Qur’an ).
Kaitannya dengan
syarat – syarat yang telah di tetapkan oleh para ulama, dalam diri pengarang
tafsir al-Azhar, telah mengetahui
disiplin ilmu yang telah disyaratkan ala kadarnya ( sikap rendah hati seorang
alim ), beliau menekankan bahwa Ia bukanlah seorang yang sangat alim dalam
segala ilmu itu. Hal ini, seperti kata – kata orang bijak “ diatas langit
masih ada langit”. Beliau juga mengatakan “ tidaklah seorang yang menempuh
spesialisasi didalam satu cabang disiplin ilmu islam, Cuma mengetahui secara
merata dan meluas pada tiap- tiap cabang
ilmu itu. Biasanya ilmu yang meluas rata itu tidaklah mendalam, sebut saja
misalnya seorang ulama ahli hadis ( spesialisasi / pakar dalam ilmu hadis )
terkadang lemah pada bidang ilmu fiqh, dan begitu juga sebaliknya. Hal ini
menunjukkan bahwa sebuah penafsiran bersifat “paten“ dan diamalkan, tapi perlu
di kaji dan ditelaah ulang guna menjawab permasalahan hidup yang semakin kompleks.
Menurutnya, seorang penafsir harus memelihara senaik – baiknya hubungan antara Naql
dan ‘Aql, Riwa>yah dan Dira>yah. Beliau menekankan agar seorang penafsir tidak hanya semata- mata mengutip
atau menukil pendapat ulama – ulama terdahulu, tetapi menggunakan tinjauan dan
pengalaman sendiri. Namun, tidak juga hanya menuruti pertimbangan ‘Aql sendiri,
dan melalaikan apa yang dinukil para ulama.
Penulis tafsir
al-Azhar, sebelum masuk dalam gelanggang “ Tafsir” terlebih dahulu menjelaskan
apa itu al-Qur’an, apa terjemahan dan apa itu tafsir. Kitab tafsir ini, ditulis
dengan nuansa baru, di negara yang memiliki penduduk mayoritas muslim yang haus
akan bimbingan agama, haus hendak mengetahui rahasia al-Qur’an. Sehingga dalam
menafsirkan ayat – ayat al-Qur’an, beliau menghindarkan pertikaian – pertikaian
madzhab, dan tidak ta’ashshub kepada satu paham/ madzhab. Penulis tafsir ini
mencoba mendekati maksud ayat, menguraikan makna dari lafadh bahasa arab
kedalam bahasa Indonesia dan memberi ruang orang ‘tuk berfikir.
Berikut contoh
penafsirannya terhadap ayat suci al-Qur’an pada Surah al- Naba Ayat 1 – 5 ;
عَمَّ يَتَسَاءَلُونَ (1) عَنِ النَّبَإِ الْعَظِيمِ (2) الَّذِي هُمْ فِيهِ مُخْتَلِفُونَ
(3) كَلَّا سَيَعْلَمُونَ (4) ثُمَّ كَلَّا سَيَعْلَمُونَ (5)
Berita Yang Besar!
"Dari hal
apakah mereka tanya-bertanya?" (ayat 1). Atau, soal apakah yang mereka
pertengkarkan atau persoalkan di antara sesama mereka? Mengapa mereka jadi
bertengkar tidak berkesudahan? Yang mereka tanya-bertanyakan, yang mereka
persoalkan, menjadi buah tutur di mana mereka berkumpul sesama mereka, yaitu
kaum Quraisy itu, ialah; 'Dari hal satu berita besar!" (ayat 2).
Adalah satu berita besar bagi mereka
itu seketika Muhammad s.a.w. anak Abdullah, yang mereka kenal sejak dari masa
kecilnya sampai masa remajanya dan sekarang telah meningkat usia lebih dari
empat puluh tahun telah mengeluarkan suatu pendirian yang berbeda sama sekali
daripada apa yang mereka harapkan. Dia mengaku dirinya mendapat wahyu dari
Tuhan; Dia mengaku Malaikat Jibril diutus Allah menemuinya buat menyampaikan
wahyu itu. Dan wahyu-wahyu yang disampaikannya itu sangatlah menggoncangkan
masyarakat. Dia melarang menyembah berhala yang selama ini menjadi dasar agama
kaumnya. Dan dia pun mengatakan pula bahwa di belakang hari yang sekarang ini,
yaitu setelah kita mati, kita semuanya ini akan hidup kembali dalam alam lain
yang bernama alam Akhirat. Di sana akan diperhitungkan amalan manusia. Dosa
yang tidak akan diampuni, kalau tidak taubat betul-betul, ialah dosa
mempersekutukan Allah dengan yang lain.
Mereka tanya-bertanya, berbisik hilir
berbisik mudik, di "Darun-Nadwah" tempat mereka biasa berkumpul,
ataupun di dalam Mesjid, atau di mana saja. Yang jadi berita hangat ialah soal
ini; soal al- Quran yang dinamai wahyu, soal Kiamat dan soal kebencian kepada
penyembahan berhala. Itulah semua; "Yang telah mereka perselisihkan padanya."
(ayat 3). Niscaya perselisihan itu tidak akan putus-putus. Tanya-bertanya di
antara yang satu dengan yang lain tiadakan terhenti, karena semuanya hanya akan
memperturutkan pertimbangan sendiri; "Jangan!" (pangkal ayat 4).
Artinya tidaklah ada perlunya dipertengkarkan atau mereka tanya-bertanya dalam
soal yang besar itu, karena; "Kelak mereka akan tahu." (ujung ayat
4). Tegasnya kalau mereka bertengkar atau tanya-bertanya dalam persoalan yang
besar itu, sehingga keputusan tidak ada, namun akhir kelaknya mereka pasti akan
tahu juga, atau segala yang mereka tanya-bertanyakan itu tidak lama lagi pasti
menjadi kenyataan, karena ketentuan yang digariskan oleh Allah, tidak ada
tenaga manusia yang dapat 'rnenahannya.
"Kemudian itu!" (pangkal ayat
5). Kemudian itu diperingatkanlah untuk kesekian kalinya, "Sekali-kali
jangan!" Bertengkar bertanya-tanyaan juga, karena tidak akan ada faedahnya
menggantang asap mengkhayalkan kehendak yang telah tertentu dari Allah dengan
hanya meraba-raba dalam kegelapan jahil; "Kelak mereka akan tahu!"
(ujung ayat 5). Segala keragu-raguan yang menimbulkan berbagai macam pertanyaan
kian sehari akan kian sirna, sebab al-Quran kian sehari akan kian jelas.
Menurut suatu riwayat yang dibawakan oleh ahli-ahli tafsir, soal yang Iebih menjadi
soal yang dipertanya-tanyakan di antara mereka, terlebih dari yang lain ialah
soal dibangkitkan sesudah mati itu, (yaumal ba`ts). Sebagai tersebut di
dalam Surat 36 (Yaa-Siin) ayat 78, pernah ada di antara mereka yang memungut
tulang yang telah lapuk dari tanah, lalu bertanya kepada Nabi s.a.w.;
"Siapakah pula yang akan dapat menghidupkan kembali tulang-belulang ini
padahal dia telah lapuk?" Sampai Nabi disuruh menjawab (ayat 79);
"Yang akan menghidupkannya ialah yang menjadikannya pertama kali."
Kesimpulan dari ayat-ayat ini ialah, pertanyaan yang timbul di antara sesamamu
itu kelak akan terjawab dengan sendirinya, karena wahyu akan turun lagi dan
keterangan akan bertambah lagi, dan pembuktian pun akan diperlihatkan. Sebab
itu bersedialah buat beriman.

Comments
Post a Comment