Tafsir al-Ibriz
Li Ma’rifah Tafsir al-Qur’an al-‘Aziz
karya
K.H. Bisri Musthafa
A. Sketsa Biografis K.H. Bisri Musthafa
Bisri
Musthafa lahir dikampung Sawahan, rembang , Jawa Tengah, pada 1915 M. Putra H.
Zaenal Musthafa dan Chodijah ini semula diberi nama Mashadi.Kelak setelah
menunaikan haji pada 1923M, namanya berganti Bisri. Sejak kecil ia sudah
menunjukkan kecerdasan yang luar biasa. Dari kedua orang tuanya , ia dibimbing
dasar-dasar pendidikan Islam. Setelah itu Bisri mulai mengembara
ntukmenuntut ilmu dari pesantren ke pesantren. dari pesantren Ksingan, Rembang
asuhan Kiai Cholil, ia belajar ilmu Nahwu dengan kitab Alfiyah dengan
pegangan utamanya. Pada bulan Ramadhan ia sering nyantri selama sebulan
penuh dipondok pesantren Tebu Ireng, Jombang asuhan K.H. Hasyim Asy’ari. Ia
juga belajar kepada Kiai Bakir, Syekh Maliki, Sayid Amin, Syekh hasan
Masysyath, Kiai Muhaymin, dan syekh Umar Hamdan al-Maghribi di Mekkah pada tahun 1936.
B. Seputar Al-Ibriz Li Ma’rifah Tafsir
al-Qur’an
Karya
tafsir K.H. Bisri Musthafa ini berjudul lengkap al-Ibri>z li Ma‘rifat Tafsi>r
al-Qur’a>n al-‘Azi>z dan
lebih dikenal dengan al-Ibri>z.
Sebelum disebarluaskan kepada khalayak ramai, karya tafsir ini terlebih dahulu
di-taftisy oleh beberapa ulama terkenal, seperti al-‘Alla>mah al-Ha>fiz} KH Arwani Amin, al-Mukarram KH Abu ‘Umar, al-Mukarram al-Ha>fiz} KH Hisyam, dan al-Adi>b al-Ha>fiz} KH Sya’roni Ahmadi. Semuanya ulama kenamaan asal Kudus,
Jawa Tengah. Dengan demikian, kandungannya dapat dipertanggungjawabkan baik secara
moral maupun ilmiah.
Oleh
penulisnya, seperti dinyatakan dalam kata pengantar, karya tafsir ini sengaja
ditulis dalam Bahasa Jawa, dengan tujuan supaya orang-orang lokal, Jawa, mampu
memahami kandungan al-Qur’an dengan seksama. Karya tafsir ini ditampilkan
dengan ungkapan yang ringan dan gampang dicerna, hingga oleh orang awam
sekalipun. Dan sebagai penguatan argumentasi di dalam karya ini. Beliau banyak
menyandarkan argumen atau menukil dalam kitab tafsirnya ini dari mufassir
terdahulu. K.H Bisri Musthafa menuturkan;
“Dene bahan-bahanipun tarjamah tafsir ingkang kawulo
segahaken puniko, mboten sanes inggih naming metik saking tafsir-tafsir mu‘tabarah,
kados Tafsir al-Jalalain, Tafsir al-Baidhowi, Tafsir al-Khazin, lan sak
panunggilanipun”. / Adapun bahan-bahan terjemah tafsir yang kami suguhkan ini,
tak lain hanya memetik dari kitab-kitab tafsir yang mu’tabar, seperti Tafsir
al-Jalalain, Tafsir al-Baidhowi, Tafsir al-Khazin, dan sebagainya. Dari tuturan
ini, dua point penting bisa diambil: karya ini disebutnya sebagai
tarjamah-tafsir dan bahan-bahannya diambil dari tafsir-tafsir mu’tabar karya
para ulama terdahulu.
Namun
demikian, bukan berarti pemikiran K.H. Bisri tenggelam sama sekali di telan
gelombang pemikiran ulama-ulama sebelumnya. Ungkapan itu tak lain sebagai
penggambaran atau tepatnya pengakuan, bahwa tafsirnya lebih banyak menukil
pendapat ulama-ulama sebelumnya ketimbang pendapat pribadinya. Hanya saja
sayangnya, K.H. Bisri jarang sekali menyebutkan sumber-sumber asal
penafsirannya. Ketiadaan penyebutan sumber ini, pada akhirnya akan memberi
kesan bahwa kitab al-Ibri>z memang
betul-betul murni pemikiran sang penulis dan bukan hasil ‘comotan’ dari
kitab-kitab tafsir sebelumnya. Jarangnya penyebutan sumber ini, praktis
menyisakan kesulitan tersendiri bagi pemakalah untuk melacak warna pemikiran
yang bertaburan dalam tafsir al-Ibri>z ini. Pemikiran al-Suyu>t}i>, al-Kha>zin, atau al-Baid}a>wi>-kah yang paling dominan mewarnai al-Ibri>z,
semuanya masih remang-remang.
Apa
yang ditegaskan K.H. Bisri ini, bisa menjadi langkah awal bagi kita untuk
melakukan penelusuran lebih jauh dan dalam terhadap al-Ibri>z ini,
utamanya berkaitan dengan sistematika penulisannya.
Hal
yang menarik lainnya adalah terkait penggunaan bahasa dalam tafsir al-Ibriz.
Selain lokal, Jawa, bahasa ini juga memiliki unggah-ungguh. Ada semacam hirarki
berbahasa yang tingkat kehalusan dan kekasaran diksinya sangat tergantung
pihak-pihak yang berdialog. Ini kekhasan tersendiri dari bahasa Jawa (termasuk
juga bahasa Sunda), yang tidak dimiliki karya-karya tafsir lainnya. Karenanya,
pemakalah berani menyimpulkan, bahasa Jawa yang digunakan oleh K.H. Bisri
berkisar pada dua hirarki: bahasa ngoko (kasar) dan bahasa kromo
(halus).
Kedua
hirarki bahasa ini dipakai pada saat berbeda. Bahasa ngoko digunakan
tatkala K.H. Bisri menafsirkan ayat secara bebas, karena tidak ada keterkaitan
dengan cerita tertentu dan tidak terkait dengan dialog antar dua orang atau
lebih. Sementara bahasa kromo digunakan untuk mendeskripsikan dialog
antara dua orang atau lebih, yang masing-masing pihak memiliki status sosial
berbeda. Satu di bawah dan lainnya di atas. Satu hina dan lainnya mulia.
Misalnya, deskripsi dialog yang mengalir antara Ashab al-Kahf dengan Raja
Rumania yang lalim, Diqyanus, antara Qit}mi>r (anjing yang selalu mengiringi langkah As}h}a>b al-Kahf) dengan
As}h}a>b al-Kahf, antara
Nabi Muhammad SAW dengan seorang konglomerat Arab-Quraisy bernama Uyainah bin
His}n,
antara Allah SWT dengan Iblis yang enggan menuruti perintah-Nya untuk bersujud
pada Adam AS, juga antara Khidir AS dengan Musa AS.
K.H.
Bisri terkadang juga menampilkan Hadis Nabi apa adanya, tanpa menyebutkan
rangkaian sanadnya. Statusnya, s}ah}i>h}, h}asan, atau d}a>‘if-kah,
juga tak disebutkannya. Penyebutan semacam ini jelas akan menimbulkan pelbagai
pertanyaan, utamanya terkait status Hadis itu. Selain menampilkan Hadis Nabi, K.H.
Bisri terkadang juga menampilkan pendapat para shahabat. Misalnya, pendapat Ibn
‘Abba>s dan ‘A<’isyah, terkait penafsiran Q.S. al-Isra>’: 111. Dalam menafsiri
Q.S. al-Baqarah: 1, alif-la>m-mi>m, K.H.
Bisri sebenarnya juga menggunakan interpretasi ala Ibn ‘Abba>s. Hanya saja, K.H. Bisri tidak menyebut secara langsung,
penafsiran siapa yang dinukilnya.
Pertanyaan
selanjutnya: metode apakah yang ditempuh K.H. Bisri dalam menyusun karya
tafsirnya ini? Berdasarkan analisis yang pemakalah lakukan secara ijma>li> alias global dan tidak mendetail ini, pemakalah cencerung
menyimpulkan metodenya adalah tah}li>li>. Cocok juga disebut sebagai al- tah}li>li> al-waji>z,
seperti halnya Tafsi>r al-Jala>lain. Dan
tak salah juga disebut ijma>li>. Sedang manhaj-nya tak lain adalah al-ma’s\u>r.
a) Metode penulisan Kitab
- Ayat al-Qur'an ditulis di
tengah dengan diberi makna gandul khas pesantren-pesantren di wilayah
Jawa.
- Terjemahan tafsir ditulis di
bagian pinggir.
- Keterangan-keterangan lain yang
terkait dengan penafsiran ayat dimasukkan dalam sub kategori tanbih,
faidah, muhimmah, dan lain-lain.
Catatan:
Perlu diketahui bahwa tidak ada
kedisiplinan dalam kategorisasi bahasan menurut istilah-istilah yang dipakai
ini. Sabab al-Nuzu>l, misalnya, terkadang dimasukkan ke dalam kategori muhimmah,
atau tanbi>h, atau kategori yang lain.
b) Contoh Penafsiran
Ketika menafsirkan Qs. al-Rah}ma>n: 27:
“Sekabehane kang ana ing bumi
(hewan-hewan lan liya-liyane) kabeh rusak. Lan tetep ora rusak Dzate Pangeran
ira kang kagungan sifat kahagungan lan mulyaakan marang wong-wong mukmin.’
(Semua yang ada di bumi [hewan-hewan dan yang lainnya], semua hancur. Dan Dzat
Allah SWT yang memiliki sifat agung dan memuliakan kaum mukmin tidak hancur.)”
Terkait Q.s al-Qas}as}
ayat 88:
وَلَا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا
آَخَرَ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ لَهُ الْحُكْمُ
وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ [2]
“Siro ojo nyembah bareng-bareng karo
nyembah Allah. (Ojo nyembah) sesembahan liyo, ora ono Pangeran kang hak
disembah kejobo namung Allah ta’ala dewe. Sekabehane opo bae iku mesti rusak
kejobo Panjenengane Allah. Iku namung kagungane Allah ta’ala dewe sekabehane
putusan kang lestari. Lan namung marang Panjenengane Allah dewe siro kabeh
bakal dibalekake (sowan, tangi sangking kubur banjur podo ngerasaake walese
Pangeran dewe-dewe)’.(Kamu jangan menyembah Allah dengan disertai menyembah
selain-Nya. Jangan menyembah sesembahan lain. Tidak ada Pangeran [Tuhan] yang
hak disembah kecuali Allah saja. Apapun yang ada pasti hancur kecuali Dzat
Allah. Keputusan yang abadi hanya kepunyaan Allah. Dan hanya pada Allah lah
kalian semua akan dikembalikan [bangun dari kubur lantas masing-masing
merasakan balasan Tuhan).”
Qs. al-Zumar ayat 67:
وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ
قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّماوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ
بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ[3]
Kiai Bisri mengartikannya “utawi
piro-piro langit iku dilempit kelawan asto tengene Allah.’ (Langit dilipat
dengan tangan kanan Allah). Lantas Kiai Bisri menafsirkan, ‘Langit-lagit
dilempit, dikumpulaken serana kakuasaane Allah Ta’ala.”
Seperti
tertulis diataslah beberapa contoh penafsiran K.H. Bisri Musthafa dalam
tafsirnya al-Ibri>z li Ma‘rifat Tafsi>r
al-Qur’a>n al-‘Azi>z. Ada
banyak hal menarik yang perlu ditelaah lebih jauh juga komprehensif sebagai
pelengkap khazanah keilmuan khususnya pada bidang tafsir di Nusantara. Wa Allah
A’lam bi al-Shawab.

Comments
Post a Comment