Judul : al-Qur’a>n al-‘Az}i>m wa bi Ha>misy
Tarjuma>n
al-Mustafi>d
Pengarang : ‘Abd al-Ra’u>f al-Sinkili>
Penerbit : Da>r al-Fikr, Beirut 1990
A. Sekilas Tentang Pengarang
‘Abd al-Ra’u>f bin ‘Ali> al-Fansu>ri> al-Sinkili> dilahirkan pada
sekitar tahun 1024 H/1615 M. Berasal dari Fansur (Barus), sebuah kota pelabuhan
penting di Sumatera Barat dan penghasil utama kapur barus. Fansur sendiri
pada masa itu terkenal sebagai pusat kajian Islam serta titik penghubung antara
Islam Melayu dengan Islam di Asia Barat dan Asia Selatan. Beliau merupakan
salah satu tokoh Indonesia yang diperhitungkan dalam jaringan intelektual di
Timur Tengah pada abad 17-an.
Disiplin keilmuan yang dikuasainya sendiri sangat
kompleks: dari Syariat, Fiqh, Hadis, hingga Kalam dan Tasawuf atau Ilmu-ilmu
Esoteris. Fakta bahwa sebagian besar guru-gurunya dan kenalan-kenalannya
tercatat dalam kamus-kamus biografi Arab menunjukkan keunggulan yang tak
tertandingi dari lingkungan intelektualnya. Karier dan karya-karyanya setelah
ia kembali ke Nusantara merupakan sejarah dari usaha-usahanya yang dilakukan
secara sadar untuk menanamkan kuat-kuat keselarasan antara syariat dan tasawuf.
B. Kitab Tarjuma>n al-Mustafi>d
Kitab ini disinyalir merupakan tafsir al-Qur'an
secara lengkap dalam bahasa Melayu paling awal di Melayu-Nusantara, yang
diselesaikan selama karier panjangnya sabagai qa>d}i di Kesultanan
Aceh. Sebagai karya tafsir paling awal, tak heran jika edisi cetaknya terbit di
berbagai belahan dunia Islam, seperti Singapura, Penang, Jakarta, Bombai, Istambul,
Kairo, dan Makkah dalam kurun waktu panjang dari akhir abad ke-17 sampai akhir
abad ke-20.
Corak penulisan kitab Tarjuma>n
al-Mustafi>d ini mengikuti alur Tafsi>r al-Jala>lain, karya monumental Jala>l al-Di>n al-Mah}alli> dan Jala>l al-Di>n al-Suyut}i>. Hanya pada
bagian-bagaian tertentu saja al-Sinkili> memanfaatkan Tafsi>r al-Baid}a>wi> dan Tafsi>r al-Kha>zin. Corak demikian dimaksudkan al-Sinkili> sebagai teks
pendahuluan yang bagus untuk orang-orang yang baru mempelajari tasir al-Qur'an
di kalangan Muslim Melayu-Nusantara, agar mereka mudah memahami makna al-Qur'an
sehingga bisa mempraktekkan isinya dalam kehidupan sehari-hari. Karenanya, ia
menerjemahkan Tafsi>r al-Jala>lain kata perkata dengan tidak memberikan tambahan dalam bentuk penjelasan
atau komentar apapun dari dirinya sendiri. Lebih jauh lagi, dia menghapuskan
penjelasan-penjelasan tata bahasa Arab dan penafsiran-penafsiran panjang, yang
dinilainya justru menyulitkan pembaca.
Nilai signifikansi karya tafsir al-Sinkili> ini adalah merupakan suatu petunjuk dalam sejarah keilmuan tafsir al-Qur'an
di Melayu, dimana ia meletakkan dasar-dasar bagi sebuah jembatan antara
tarjamah (tarjemahan) dan tafsir, dan karenanya mendorong telaah lebih lanjut
atas karya-karya tafsir dalam bahasa Arab. Selama hampir tiga abad, Tarjuma>n
al-Mustafi>d merupakan satu-satunya terjemahan lengkap al-Qur'an di Melayu. Baru,
dalam tiga puluh tahun terakhir muncul tafsir-tafsir baru di wilayah
Melayu-Nusantara. Dengan demikian, boleh dikatakan, karya al-Sinkili> ini memainkan peranan penting dalam memajukan
pemahaman lebih baik atas ajaran-ajaran Islam.
C. Prinsip-prinsip penafsiran :
· Menerjemahkan secara harfiah, tidak ada usaha
untuk menjelaskan kandungan ayat yang sedang diterjemahkan dengan memakai
ayat-ayat lain yang seide, tidak juga dengan hadis, riwayat shahabat, apalagi
dengan kisah isra>’i>liya>t.
· Menjelaskan asba>b nuzu>l al-a>ya>t (jika ada) yang biasanya dimasukkan dalam bagian “kata mufassir” atau
“kisah”.
· Penjelasan ragam qira>’a>t dalam bagian baya>n atau fa>’idah.
· Penjelasan manfaat atau fad}i>lah ayat atau surat jika dibaca. Biasanya diletakkan pada pembukaan surat,
menyertai penjelasan status makkiyah atau madaniyah.
D. Contoh penafsiran:
Surat al-Ikhla>s}
“Ini surat al-Ikhla>s} turunnya di Makkah atau Madinah dan ia itu empat atau lima ayat. Maka
tersebut dalam al-Baid}a>wi> hadis
bahwasanya ia mendengar seorang laki-laki mengaji. Dia maka sabdanya “wajabat“
maka dekat (berkata?) orang “apa arti “wajabat” ya Rasul Allah?” maka
sabdanya “wajabat lahu al-jannah” artinya wajiblah baginya surga.
“Kata olehmu Ya Muhammad pekerjaan itu Ia jua Tuhan Yang Esa. Allah
Ta’a>la> jua yang dimaksud
daripada segala hajat. Tiada Ia beranak dan tiada diperanakkan. Dan tiada
bagi-Nya sekutu dengan seorang juapun. (kata) Ahli tafsir, tersebut didalam al-Kha>zin bahwasanya segala musyrik itu telah berkata
mereka itu bagi Rasul SAW: sebut olehmu bagi kamu bangsa Tuhanmu, maka turun
firman Allah Ta’ala “Qul Huwa Alla>hu Ah}ad” kepada akhirnya. (Baya>n) Ikhtila>f antara segala Qa>ri’ yang tiga pada membaca kufua. Maka Na>fi‘ dan Abu> ‘Amr membaca dia Kufu’a dengan h}amzah, dan H{afs} membaca dia kufua
dengan wawu. Wa Alla>hu A‘lam.”


Comments
Post a Comment